The Journey of The Travelling Doctor http://wm290764.dbswebmatic.com "..Bukan Apa Yang Kita Peroleh, Bukan Siapa Kita Ketika Mati.. Tapi Apa Yang Telah Kita Bagi Dan Berikan.." Sebuah Catatan Perjalanan Meraih Mimpi Sebagai Dokter dan Praktisi Kesehatan Masyarakat yang Berjiwa Enterpreneur dan Diplomat.. Sun, 21 Jan 2018 13:43:13 +0700 CMS KOMA v1.00 id http://wm290764.dbswebmatic.com http://wm290764.dbswebmatic.com/images/logo.gif The Journey of The Travelling Doctor KECOPETAN!! Sebuah Refleksi http://wm290764.dbswebmatic.com/?pg=articles&article=15446 http://wm290764.dbswebmatic.com/?pg=articles&article=15446 Wed, 21 Sep 2011 19:59:01 +0700 Mutiara & Fadjar Notre Vie en Belgique http://wm290764.dbswebmatic.com/?pg=articles&article=15446

Mercredi, 21 Septembre 2011

Tiga kali sudah hari ini aku bolak-balik ke counter Bank ING di samping Saint Luc Clinique, rumah sakit milik kampus kedokteran dan kesehatan masyarakat Universitee catholique de Louvain tempat aku belajar. Pertama aku mengurus penggantian kartu ATM ku yang hilang kemarin. Kedua aku mengajukan layanan autodebet untuk tagihan listrik dan sewa kamar. Ketiga mengganti data alamat dan jumlah. Dan hampir saja aku datang lagi untuk keempat kalinya karena kesalahan yang tidak perlu dari costumer service (CS) Bank asal Belanda ini. Kebetulan CS ini adalah wanita setengah baya, dari segi usia mungkin pantas untuk menjadi budhe saya, yang tidak berbahasa Inggris, hanya Prancis dan Belanda dengan aken Belgia yang sangat kental.

Kedatanganku yang pertama dan kedua adalah wajar karena selepas mendapat penggantian ATM yang hilang aku pergi ke Logement Service dan sekembalinya dari sana, aku ingin mengajukan autodebet untuk pembayaran sewa rumah dan tagihan listrik yang baru kudapat dari Logement Service. Agar lebih praktis.

Tetapi setibanya di rumah, kutemukan kesalahan penulisan alamat dan jumlah tagihan pada hasil print out mbokdhe CS tadi. Walau jumlah tagihannyannya lebih kecil, ini bisa beresiko suatu hari aku kena denda karena dianggap aku lalai membayar di bawah jumlah seharusnya. Aku pun kembali untuk membenarkan jumlah tagihan dan meminta tanggal nya dimajukan. Pertama dikerjakannya lah bagian tanggal tagihan dari 1/10 menjadi 24/9.

“Oui, c’est bon” kata saya sambil latihan Prancis. « Mais, le mont est pas juiste Madame », sambung saya menerangkan angka 7 diketik angka 2 sama dia.

“Voila“,  katanya setelah memperbaiki dan memprint ulang.

Saya pun hanya mengecek bagian nominal yang sudah benar. Sampai pintu saya cek, tanggal tagihan autodebetnya jadi 24/10. Mundur 1 bulan. Wo, dasar mbokdhe!! Untung aku sempat baca, kalau aku tidak sadar dan membiarkan aku akan dianggap ngemplang bayar apartemen satu bulan !!! Mau balik lagi ingat pengalaman barusan dan yang lain, ahh sudah lelah dibuatnya..

 

Meski Negara-negara Eropa konon semakin canggih, termasuk Brussel harusnya sebagai ibukota Uni Eropa, tidak di semua negara hal ini diimbangi oleh SDM nya secara merata di semua lini. Tiga minggu pertama di Brussel ini sudah berkali-kali kami mendapati kekecewaan dalam berbagai bentuk pelayanan publik.  Beberapa di antaranya adalah:

1.       Istriku sempat dalam sehari kembali ke cashier Carrefour sebanyak tiga kali karena kesalahan hitung dan kesalahan identifikasi barang dari petugasnya. Kami hampir dirugikan 10 Euro. Itu yang kami sadari, entah belanja-belanja sebelumnya.

2.       Beberapa cashier di beberapa toko seperti di tempat fotokopi bekerja sangat lambat memijit komputer dan kalkulator dengan telunjuk dan membuatku yang biasa lihat Encik-encik bekerja sangat cepat menggunaka kalkulator di pasar atau took-toko di Indonesia menjadi sangat gemas. Kadang mereka malas luar biasa, hampir selalu men-scan semua barang yang dibeli customer meskipun barang ini sama dengan yang sebelumnya. Kalau membandingkan di Indonesia, nampak malas luar biasa untuk menekan tombol perkalian.

3.       Di kantor polisi pun demikian, petugas yang saya temui mengetik hanya dengan dua telunjuk dengan kecepatan timit-timit, orang Jawa bilang. Sementara teman di sebelahnya tidak berhenti mengunyah makanan kecil sepanjang setengah jam saya berdiri. Menunggu koleganya membuat surat pernyataan yang hanya satu halaman dan itu pun sudah dalam bentuk template.

Meski tidak di semua jenis pelayanan publik, namun sangat banyak keganjilan yang cukup mengganggu kelancaran proses administrasi di sini. Sangat berbeda dengan kualitas pelayanan di Geneva pada pengalaman yang lalu. Melihat kinerja mereka di Brussel ini, membuat saya sangat optimis dengan masa depan Indonesia.

Hari ini juga aku mengurus student card yang hilang. Beruntung aku sempat membuat surat pernyataan dari polisi kemarin, Attestation de depot de plainte dalam bahasa Prancis. Dengan surat keterangan ini aku tidak perlu membayar biaya penggantian sebesar 2,5 Euro. Walau tidak seberapa, sekeping Euro terasa begitu berharga bagi pengantin baru seperti kami.

Selama pengurusan student card baru aku memperhatikan bagian re-inscription etudiant ini sangat ramai oleh mahasiswa yang melakukan registrasi ulang di awal tahun ajaran baru. Hal yang menarik perhatian adalah administrasi di universitas ini sangat tertib dan efisien. Regsitrasi dilakukan satu atap dengan prosedur yang mudah. Di kampus kemampuan administrasi dan mengetik petugasnya lebih baik dari di beberapa fasilitas publik lain. Di samping ruangan registrasi ulang disediakan dua meja yang ditunggui dua mbak-mbak dengan tulisan accueil di atas mejanya. Mereka adalah mahasiswi yang direkrut untuk selalu siap menjawab pertanyaan dari mereka yang datang. Dengan pelayanan cukup ramah, dan mengakui setiap ketidaktahuannya karena statusnya yang masih baru, pengurusan student card alhamdulillah berlangsung lancar.

Sehari Sebelumnya..

“Hmmphh.. lega..” ucapku selepas solat asar di atas rumput taman kawasan Porte de Hal, Brussel ini.

“ 5 menit lagi jalan yuk, » ucapku pada istri yang sedang duduk di sebelah melihat2 foto kita berdua seharian itu.

Mataku melihat sekeliling.

“Sayang, lihat tas Mas ga?” tanyaku setengah panik.

“Hah, kamu ga becanda kan?” jawab istriku tidak kalah panik.

Beberapa detik kami panik. Bergantian kami saling melempar pandang dan sekeliling. Hanya ada tatapan panik, sedih, kecewa. Menyesali kecerobohan kami. Ya, hanya “Innalillahi wa inna ilaihi rajiun” yang bisa kami ucapkan.

Kami baru saja kehilangan tas cangklong krem kesayanganku bertuliskan “Amsterdam”. Isinya yang berharga adalah dompet, hp, dan kartu pos yang akan dikirim ke Indonesia. Di dalam dompet ada beberapa kartu nama penting antara lain dari beberapa petinggi  WHO, staff diplomatic di beberapa KBRI & PTRI, dan beberapa contact person international NGO yang aku kumpulkan selama internship di WHO dan beberapa kunjungan ke Eropa di waktu lalu. Ada juga kartu asuransi, ATM Mandiri, ATM ING (Bank Belanda yang kupakai di Belgia), kartu mahasiswa UCL, uang 20 CHF sisa di Geneva lalu dan 50 ribu rupiah untuk bahan obrolan sewaktu-waktu aku mengenalkan Indonesia pada lawan bicaraku.

Beberapa saat kami mencari sekeliling, bertanya pada orang-orang di sekitar, tapi nihil. Pun orang2 di sekitar kami duduk saat itu adalah selain warga kota, juga beberapa gelandangan dari Eropa Timur dan Magribi (Afrika Utara). Meski rasanya percuma saja, saya menduga bisa saja d antara mereka sudah saling berkomplot, dan tidak banyak gunanya menanyakan kehilangan barang pada gangster2 dan drug user seperti ini.

Saat kami sibuk berkekliling, secara kebetulan sebuah mobil patroli melintas, aku pun berlari menghentikan mereka untuk mencari bantuan. Intinya, aku harus segera ke kantor polisi untuk membuat surat pernyataan kehilangan. Pengalaman di Indonesia beberapa kali kehilangan barang berguna juga melatih diri menghadapi situasi seperti ini. Surat ini insyaALlah akan bermanfaat dalam pengurusan penggantian beberapa barang yang hilang nanti.

Sedari awal kami memang sudah mencermati taman ini bukan tempat yang aman. Tapi kelelahan seharian berjalan-jalan memburu mural-mural tokoh kartu Tin Tin di penjuru Brussel membuat kami hanya bisa merebahkan diri di taman ini. Taman yang terletak tepat di depan Metro Station Porte de Hal ini cukup bersih dan terpelihara. Udaranya sejuk, rumputnya hijau merata menggemaskan ke seluruh area. Seolah menawarkan keempukan tiada tara saat duduk di atasnya. Di salah satu ujungnya terdapat sebuah port bersejarah nan cantik, Porte de Hal namanya. Meski begitu saat kami datang ada sekitar tiga gerombolan drug user di beberapa sudut taman, keberadaan beberapa keluarga dan pasangan lain membuat kami merasa aman.

Teringat belum solat, aku pun memutuskan untuk solat di atas rumput tersebut dan membelakangi tasku yang kemudian hilang itu. Dasar copet, peduli amat, namanya butuh makan, orang lagi solat pun tas nya diembat. Jangankan taman, di masjid kampusku pun tas kuliah berisi laptop sering hilang. Ajaibnya, istriku yang duduk disebelahku pun sama sekali tidak merasakan ada gerakan mencurigakan dari orang yang mungkin lewat di belakang kami.

Seusai dari kantor polisi, kami kembali mengecek tempat kami duduk tadi. Hasilnya sama saja. Innalillahi wa innailaihi rajiun, mungkin memang belum rejekiku. Kami pun urung menghadiri undangan makan malam dengan beberapa volunteer UNICEFF, tempat istriku akan bekerja, yang sedianya merupakan agenda kami malam itu. Pukul 18.55, surutnya sinar matahari di petang itu seolah mengiringi eskalator Metro Station yang mengantar kami masuk ke bawah tanah. Kugenggam tangan istriku. Pulang.

Hikmah:

1.       Selalu optimis jadi orang Indonesia, kekurangan yang ada di kita juga ada pada bangsa Eropa dan bukan tidak mungkin pada bangsa mana saja. Namun dengan terbiasa hidup dalam keterbatasan, insyaAllah kita tidak terlena sehingga terus bangkit dan berusaha.

2.       Doa harus dibarengi usaha. Mau solat khusuk kayak apa, kalau tas ga dijaga bakal hilang juga. Mau rajin sholat jumat kayak apa, berangkatnya naik motor ga pake helm bisa cilaka juga. Mau berdoa serajin apa, kalau ga ngelamar kerja ga bakal dapat juga.

3.       Di pusat kota, di benua manapun berada, selalu waspada terhadap barang bawaan Anda. Jangan pernah terlena. Walaupun sedetik.

]]>
http://wm290764.dbswebmatic.com/rss-comments/
Foreword http://wm290764.dbswebmatic.com/?pg=articles&article=14996 http://wm290764.dbswebmatic.com/?pg=articles&article=14996 Tue, 5 Jul 2011 23:45:58 +0700 Mutiara & Fadjar Our Wedding http://wm290764.dbswebmatic.com/?pg=articles&article=14996 "Dan dari tanda-tandanya telah Kuciptakan untukmu pasangan-pasanganmu agar kamu hidup tenang bersamanya dengan bahagia dan cinta (mawaddah wa rahmah).
Dan itu adalah tanda-tanda bagi orang yang berakal"
(Ar Rum: 21)

 

And among Allah`s signs is this: That He created for you spouses from among yourselves.
So that you may find (rest, tranquility and repose) in them,
and He has set between you (love, affection) and (compassion, mercy):
Truly in there are signs in this for people who reflect.
(The Romans: 21)

 

back to home

 

"Semoga Allah menghimpun yang terserak dari keduanya,
memberkahi mereka berdua dan kiranya Allah
meningkatkan kualitas keturunan mereka,
menjadikannya pembuka pintu rahmat, sumber ilmu dan hikmah, serta pemberi rasa aman bagi umat"

(Doa Nabi Muhammad pada pernikahan Fathimah Az Zahra dan Ali bin Abu Tholib)

 


"O, Allah, create love and harmony between these two.Bless them and bestow upon them good children."

(The Prophet Muhammad prayer on Fathimah Az Zahra and Ali bin Abu Tholib marriage)

 

 

]]>
http://wm290764.dbswebmatic.com/rss-comments/
Wedding & Reception http://wm290764.dbswebmatic.com/?pg=articles&article=14997 http://wm290764.dbswebmatic.com/?pg=articles&article=14997 Tue, 5 Jul 2011 23:45:50 +0700 Mutiara & Fadjar Our Wedding http://wm290764.dbswebmatic.com/?pg=articles&article=14997  

In The Name Of Allah, Most Gracious, Most Merciful
With Allah grace and blessing,
We are going to hold a wedding reception of our beloved children:

Mutiara Indriani
with
Mochammad Fadjar Wibowo

 

Holy Matrimony:
Saturday 13 August 2011, at 16.00 PM

Reception:
Saturday, 13 August 2011, at 18.00 - 21.00 PM

Room Rimbawan II Manggala Wanabakti Building, Jln Gatot Subroto, Jakarta

Our happiness will be complete with your presence in this celebration of love and blessings to the bride and groom.

Cordially Yours,

Mutiara and Fadjar
Mr Hendry Dunand                                                                         Mr Mochammad Muslich Sophie
Mrs Sri Retnani                                                                                Mrs Retno Wiwiek Soulyanti

 

 

 

 

back to home

]]>
http://wm290764.dbswebmatic.com/rss-comments/
Story Behind the Wedding http://wm290764.dbswebmatic.com/?pg=articles&article=14998 http://wm290764.dbswebmatic.com/?pg=articles&article=14998 Tue, 5 Jul 2011 23:45:43 +0700 Mutiara & Fadjar Our Wedding http://wm290764.dbswebmatic.com/?pg=articles&article=14998  

Story Behind the Wedding

    Mutiara, born on 23rd February 1989, is the oldest daughter of Mr Hendry Dunand and Mrs Sri Retnani. At very young age she moved to Jakarta, attending Al Azhar 01 Junior High School and SMAN 8 High School (both acceleration class). Finally in 2010, she accomplished her bachelor degree under full scholarship at the Ritsumeikan APU, Japan. Currently, she is working in the ASEAN Secretariat Jakarta.

    Fadjar, born on November 1987, is the youngest son of Mr Sophie Mochammad Muslich and Mrs Retno Wiwiek Soulyanti. At very young age, he moved to Yogyakarta, attending SMPN 5 Junior High School. Then, he went to MAN Insan Cendekia High School, in Serpong-Jakarta. Finally in 2011, he accomplished his Bachelor Degree in Medicine at the Universitas Gadjah Mada. Currently, he is finishing his duty in WHO-Headquarter in Geneve, Switzerland and will continue his education on public health at the Medical Faculty of Université catholique de Louvain, Belgium.

    Since God already decided a good timing for them to be finally together, Mutiara and Fadjar were somehow separated in two different worlds. Even though they were applying to the same high schools, and both got accepted, but God said “not yet”.

    Future preferences are also very similar, Mutiara wanted to study medicine and Fadjar wanted to have a diplomatic carrier abroad (Fadjar received Ritsumeikan APU Scholarships too), but God also said “no way” at that time. God also said “hell no, not yet kiddo”, even though they were under one chapter during orientation and went to the same AFS student exchange programme. Both of them have participated American Field Service (AFS) exchange students funded by Bina Antar Budaya Foundation in 2005-2006. Fadjar went to the Netherlands and Mutiara went to Italy, since then they had no contact for 5 years, they could not trace each other.

   At the end of 2010, Mutiara and Fadjar met through an unexpected scenario. Facebook-uploaded fundraising advertisement for Merapi disaster designated by Fadjar has coincidently attracted Mutiara’s attention to participate, therefore communication was re-established then they have finally re-met. Turns out, Mutiara and Fadjar are meant to be together in a special way. Reading above, they have totally different paths and educational backgrounds.

   Fortunately, bunch of similarities were coincidentally uncovered at the beginning of their relationship. These mosaics of similarities are playing significant role, make them complementing each other as the perfect couple. Finally, in 2011 New Year they agreed to be together. On 23rd April, Fadjar expressed his intention to propose Mutiara, thus both families met on 23rd May 2011 to discuss in furtherance of marriage. Coincidentally, 23 is Mutiara’s favorite number as well as her birth date.

   Insha’Allah they both will depart to attempt study in Belgium this year. With all of families, relatives and friend’ prayers and blessing may God also put blessing on both of them to pursue their dream together and live happily ever after.

comment

back to home

Kisah di Balik Pelaminan

 

Mutiara adalah putri pertama dari pasangan Bapak Hendry Dunand dan Ibu Sri Retnani. Lahir dan besar di Jakarta, Mutiara bersekolah di SMP Al Azhar Kebayoran Baru dan SMA Negeri 8 Jakarta. Mutiara menyelesaikan pendidikan sarjana dengan beasiswa dari APU – Ritsumeikan University,  Jepang.

Sementara Fadjar adalah putra kedua dari pasangan Bapak Mochammad Muslich Sophie dan Ibu Retno Wiwiek Soulyanti. Lahir dan besar di Bogor, Fadjar kemudian melanjutkan sekolah di SMP Negeri 5 Yogyakarta dan MAN Insan Cendekia Serpong, Tangerang. Fadjar menyelesaikan pendidikan Sarjana Kedokteran di Universitas Gadjah Mada.Meski sekilas Mutiara dan Fadjar tampak memiliki perjalanan hidup dan latar belakang pendidikan yang berbeda dan berliku, ternyata tersimpan banyak persamaan di antara mereka yang kemudian menjadi mosaik pemersatu keduanya.

Memasuki masa SMP, meski berbeda kota, masing-masing keduanya sama-sama tinggal bersama dengan keluarga Pakde dan Budenya.  Mutiara di Jakarta, Fadjar di Jogja. Pada tahun 2003, keduanya diterima di sekolah yang sama. Meski akhirnya  Mutiara masuk SMA Negeri 8 Jakarta. Pada tahun 2005 keduanya bertemu untuk pertama kali dan berteman sebagai sesama penerima beasiswa pertukaran pelajar AFS  dari Yayasan Bina Antar Budaya. Mutiara berangkat ke Italia, sementara Fadjar ke Belanda. Selepas SMA, Mutiara dan Fadjar sama-sama mendapat kesempatan beasiswa dari APU – Ritsumeikan University, Jepang. Namun, keduanya urung kembali bertemu, Fadjar akhirnya belajar di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada.

Setelah sekian lama tidak berjumpa dan tanpa komunikasi, pada November 2010 Mutiara dan Fadjar pun bertemu melalui skenario tak terduga. Mereka bertemu setelah Mutiara melihat poster donasi korban Merapi yang Fadjar muat di Facebook dan tertarik ikut membantu mengumpulkan dana. Komunikasi pun kembali terjalin di antara keduanya.

Akhirnya Mutiara dan Fadjar sepakat untuk menjalin hubungan yang lebih serius pada awal tahun 2011 ini. Seperti pepatah berkata, rezeki dan jodoh datangnya tak pernah dapat diduga. Pada bulan Maret dan April, Fadjar mendapat kesempatan untuk melaksanakan internship WHO di Swiss dan beasiswa Erasmus Mundus di Belgia. Demi melanggengkan kebahagiaan dan kebersamaan keduanya,  pada 23 April 2011, Mutiara dan Fadjar memutuskan untuk melaksanakan pernikahan yang telah diikuti dengan proses lamaran pada 23 Mei 2011.

Mutiara mendapat apa yang tidak Fadjar dapatkan, Fadjar mendapat apa yang tidak Mutiara dapatkan. Kesempatan internship WHO yang Fadjar dapat seolah menjadi pengganti dari urungnya Mutiara melaksanakan program serupa karena bertepatan dengan tugas kantornya. Seolah sudah menjadi jalan bagi keduanya untuk saling melengkapi, saat ini Mutiara bekerja di kantor Sekretariat ASEAN di Jakarta. Mutiara menjadi delegasi ASEAN untuk misi simpatik bagi korban Tsunami di Jepang. Seolah bertukar peran, Mutiara yang semula ingin menjadi dokter kini meniti karir di dunia diplomasi, sebaliknya Fadjar yang awalnya ingin menjadi diplomat kini menuntut ilmu di dunia kedokteran. 

Setelah pernikahan ini,  Insya Allah Mutiara dan Fadjar akan bersama melanjutkan kisahnya di Eropa. Dengan diiringi doa dan restu Bapak/Ibu, semoga Allah SWT turut meridhoi usaha keduanya untuk terus berkarya dan membina rumah tangga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Amin.

 

]]>
http://wm290764.dbswebmatic.com/rss-comments/
Guest Book Buku Tamu http://wm290764.dbswebmatic.com/?pg=articles&article=15004 http://wm290764.dbswebmatic.com/?pg=articles&article=15004 Tue, 5 Jul 2011 13:52:47 +0700 Mutiara & Fadjar Our Wedding http://wm290764.dbswebmatic.com/?pg=articles&article=15004

Our happiness will be complete with your presence in this celebration of love and offer your blessings to the bride and groom.

 

Merupakan suatu kehormatan dan kebahagiaan bagi kami apabila Bapak/Ibu/Saudara/i  berkenan hadir untuk memberikan doa restu kepada kedua putra-putri kami.

back to home

]]>
http://wm290764.dbswebmatic.com/rss-comments/
Karena Mimpimu adalah Hidupku.. http://wm290764.dbswebmatic.com/?pg=articles&article=14172 http://wm290764.dbswebmatic.com/?pg=articles&article=14172 Fri, 18 Mar 2011 14:41:40 +0700 Mutiara & Fadjar Mijn Familie http://wm290764.dbswebmatic.com/?pg=articles&article=14172

Saya akan mengungkapkan hal min dan plus plus plus dalam catatan ini tentang Bapak . Bukan saya narsis, sombong, riya kalau saya nanti bakal membanggakan Bapak, ya wajar donk Bapak sendiri kan. Hehehe, masa banggain Bapaknya tetangga. Dan bukannya mau ngga sopan bahkan kurang ajar atau sejenisnya kalau nanti ada hal-hal kelu yang akhirnya saya ungkapkan. Karena kembali lagi saya menulis ini dengan tujuan saya di atas. Tanpa mengungkap min dan plus plus plus nya, saya tidak bisa “menghadirkan beliau kembali” disini..

Baiklah sidang pembaca yang mulia, hehehe. Mari kita mulai. Kalau pembaca adalah keluarga kami, atau sosok yang pernah mengenal keluarga kami secara baik saat Bapak masih ada, pasti pembaca akan bilang kalau Bapak saya, Mochammad Muslich Sophie itu orang nya lucu, supel, menarik, ramah, ringan tangan dan maaasih banyak deretan hal positif lainnya tentang dia. Tapi kami anaknya, eh saya, tepatnya (kalo kakak saya konfirmasi saja sendiri sama orangnya, harusnya ga beda jauh, wong dia korban yang paling parah.. hehe) akan dengan sangat cepat mengatakan, “enggak, Bapak tu galak, suka marah, suka mbentak-mbentak, pokoknya galak!”. Ya inilah yang saya selalu ungkapkan pada semua orang yang bertanya tentang Bapak pada saya. Setidaknya selama belasan tahun, hingga kepergiannya… Ya, Seperti itulah jawaban saya, hingga sebelum wafatnya.. Hff.. bentar ya, saya tarik nafas dulu.. Hff.. Berat banget nulis kata2 berikutnya. (eh, mbak..mbak, itu yang pake baju biru,, iya mbaknya yang nengok sini.. tisunya deketin aja mba, boleh koq nanti kalo mau nangis, jangan sekarang tapi. Belum apa2 ini :D).

Sebagai catatan, hal min yang saya ungkapkan di bagian awal nanti akan saya jelaskan dengan “kamus”   saya sampai pada masa esbelum meninggalnya Bapak. Selanjutnya, setelah wafatnya, penafsiran saya berubah semua.. Jreng..jreng jreng..

Emosional

Tiada hari tanpa marah. Itu slogan saya untuk Bapak. Ya apa saja bisa bikin Bapak marah!!!

Mati lampu -> “Wo, dasar PLN (memang) PKI!!! Maklum rumah kami dulu ndeso, nama jalannya aja Jl. Pangkalan Batu, jalanan isinya batu sebesar buah sukun. (kalo ndak tau sukun, berarti pembaca yang ndeso, hihihi) kalo naik mobil carry lewat jalan rumah kami pasti pantat Anda berasa seperti habis dipukuli. Sebagai saksi hidup PKI, dan mengalami masa pahit kekejaman PKI, mgkn wajar kalau hal-hal buruk Bapak kaitkan dengan PKI. Kalo air mati, ya PAM yang disebut PKI!

Macet -> “Payah, ga tertib semua!!! Kalo di luar negeri udah sampe dari tadi” sambil tangan nggebrak-nggebark pintu mobil dari jendela. Jaman kecil  kao naik mobil kayak di “neraka”. Isinya marah-marah, AC ga pernah nyala –ngirit katanya- makanya saya ga mau jadi PNS. Apa-apa ngirit. Saya semakin menderita karena sekolah di sekolah swasta termahal di kota kami. Satu anak satu mobil satu sopir. Eh tapi kami ngga kalah, satu anak ratusan sopir!! “Koq bisa djar?” Lha wong kita naik angkot, sementara Bogor itu Kota Sejuta Angkot!!! Haghaghag. (1)

“Gitu aja nggak bisa!!! Yang mau ke luar negeri itu Bapak apa kamu??!!” itu Bapak teriak ketika kakak saya isi formulir AFS . Kaka saya memang langganan dimarahi, sementara saya dimanja. Maklum sulung-bungsu ya gini ini. Tapi saya juga ga bebas dari bentakan Bapak. (2)

“Sukur..!! makanya kalo jalan jangan meleng!!!” kalo saya jalan dan kesandung.

  “Ayo terus, jedukin yang keras biar mati sekalian.” (3) kalo saya lagi jedukin kepala karena ngambek. Mungkin karena ini saya ga lulus cumlaude ya. “Hahaha, ngeles aja lo Jar!!”

“Gimana koq ga bisa 10? Ada ga temennya yang 10??!! Itu temennya bisa, kenapa wowok ngga??!” kalo saya ditanyai dapet nilai matematika berapa dan saya jawab kalo saya dapat 8. Wah pasti Bapak murka!! (4)

“Ayo bangun!! Kalo di luar negri sudah ketinggalan kereta!!!” (5) ya inilah salam “good morning” ala Bapak. Bukan sekedar berteriak, kalau sedak naik pitam Bapak tidak segan2 menarik bantal2, selimut dari kasur, menarik badan kami langsung dengan “cara tidak halus” kalau tidak mau disebut kasar. “ayo, cepet keburu siang, kedhandhapan baru tau rasa!” Pokoknya semua jurus verbal keluar saking jengkelnya.

Pernah suatu kali dalam perjalanan mudik, saya masih 5 tahun, kami disalip dan dipepet oleh bus Tunggal Dara di daerah pantura. Karena ngga terima, bis merah itu Bapak kejar, (bayangin kaya lagi nonton balapan beneran ya, suaranya, asepnya, suara mesinnya) tapi ini bis besar dikejar Mercy hijau tahun 1964, wuih nekat ga tuh. Setelah berada di sisi kiri bis, Bapak nekat ambiil dari kiri, lewat jendela sopir, Bapak ambil tongkat pengunci setir dan memukulnya ke badan bis berkali2. Ga masuk akal sih, mungkin penyok aja engga, tapi ya dengan begitu mungkin dia reda emosinya. Seru lah pokoknya pengalaman2 kayak gitu. (6)

Daann masih banyak lagi. Ga usah panjang2 ga abis2 nanti.

Yang jelas saking takut, bahkan bencinya saya dengan Bapak saat itu..

“Yah, koq Besok Bapak dah pulang Ma? Suruh pergi yang lama aja..” kata saya dan kakak kalau Bapak tugas luar kota. Atau..

“yes, besok Bapak dines!! Hore.. MERDEKA!!!”

“Asyik, besok  liburan ke jogja (tanpa Bapak tentu)…!!! Merdeka!!!” slogan merdeka ini sampai terkenal di seantero keluarga besar kami. Sampai2 kalau kami liburan ke Jogja sodara-sodara menyindir, “merdeka nih yeee..jauh dari Bapak..” dan kami pun tersenyum lebar selebar – lebarnya.. hahaha. Makanya tidak heran kalau kami sangat dekat dengan kakek kami di Jogja. Setiap libur cawu, kami pasti “minggat” dari rumah naik bisa berdua ke Jogja . Ya krucil2 gitu. Yang satu TK yang satu SD, istilah Mbah Kakung kami “dipaket” nitip pak sopir bis (makanya saya punya cita2 jadi supir bis semasa SD, cerita soal ini kapan2 aja). Di Jogja kami merdeka  semerdeka- merdekanya!! Tanpa ada Bapak!!

“Mah, Bapak tu marah2 terus, besok bungkus sarung, terus glundungin ke samping aja!!” samping bagi kami berarti jurang di sisi teras samping rumah kami. Ngawur saya ini memang, tapi itulah memang yang saya ungkapkan saat itu saking takut dan bencinya sama Bapak. Waktu itu. Dan “beraninya (cuma ngadu) sama mama”.

Setelah kuliah kedokteran (6) saya baru mengeti bahwa Bapak memiliki karakter Tipe A, dalam penggolongan   karakter umum manusia. Dan memang banyak orang terlahir seperti ini. Tinggal kadarnya saja yang berbeda-beda tergantung bagaimana pengalaman hidupnya. Karakter tipe A (perfeksionis, kompetitif, tidak sabaran, mudah complain, mudah stress, dll) inilah yang menjadi salah satu penyebab meninggalnya. Sejujurnya saya memiliki tipe yang sama denga Bapak, makanya saya rajin olahraga dan berusaha meredam sikap emosional saya J

http://www.associatedcontent.com/article/1946726/type_a_and_type_b_behavior_traits.html

Kalau Anda baca link di atas soal karakter umum manusia dan belum kadung punya pasangan, carilah pasangan yang karakternya beda dengan Anda, insyaAllah langgeng. Tapi kalo dah terlanjur tenang aja, inget Prinsip Djohan . Hah apa tu Djar??!! Eh, ga tahu Prinsip Djohan??!! Djohan ituuu… Djodoh di tangan TuHAn.. wuakakakakak..!!!

Ya, itulah Bapak yang pemarah di mata saya. Dulu. Tidak pernah saya mengucapkan “I love you Pak” dan sejenisnya. Tidak pernah saya bercakap dengan menatap matanya. Takut. Tidak pernah saya meminta sesuatu darinya. Horor   tidak pernah saya menciumnya dengan inisiatif (selalu dipaksa). Beuh, boro-boro, bilang makasih aja ga berani. Tapi itu semua, DULU. Sayangnya yang saya sebut dulu itu terjadi hingga   sebelum wafatnya. Dari dalam hati saya baru bisa merasa dan mengucap sayang sama Bapak setelah Bapak tidak ada. Semua maksud beliau baru bisa saya pahami justru setelah wafatnya. TERLAMBAT!!!

Karena baru sekarang, setelah Bapak gak ada, setelah mengalami banyak hal & menjadi mhsw kedokteran, saya baru sadar maksud dari sikap keras Bapak saat saya kecil.

1.       “PLN PKI!!”, ini sebetulnya “wajar” diungkapkan orang karakter tipe A, apalagi dengan masa lalu pedih dengan PKI. PKI, menjadi anchor (dalam ilmu NLP) terbesar Bapak akan persepsi marah-kecewa.

2.       “Gitu aja ga bisa, yang mau keluar negeri siapa?!!” meski bukan saya yang mengalami, bentakan menyakitkan ini mnjadi motivasi bagi kakak saya, yg kelak kepergian nya ke Jerman dengan AFS menjadi kebanggan bapak yang luar biasa. Tidak ada sejengkal tanah pun yang dilaluinya yang terbebas dari ucapan mantapnya, “Anak pertama saya sekarang di JERMAN!”. Hal ini membuat saya bercita-cita ingin AFS juga. Dengan pemikiran saat itu, “kalau Bapak bangga karena Edo AFS, berarti meski sekarang Bapak sudah meninggal, Bapak mustinya juga Bangga kalo saya bisa AFS”. Bukannya Bapak sombong, tapi mengingat kondisi kakak saya ke belakang sebelum AFS (ga perlu dibuka, belum blang orangnya), suatu hal lumrah kalo Bapak saya soundingnya melebihi  tajamnya “SILET”!!

3.       “ayo terus jedukin, biar mati sekalian”,  Bukannya bapak mau bunuh saya, karena setelah itu biasanya dia menghampiri saya dan ngelus2.. “kalo punya kepala tu disayang”.

4.       “Ada temennya ga yang dapat 10?” intinya Bapak mau anaknya bisa semua hal. Kalo orang lain bisa, kenapa anaknya ngga?!

5.       “Kalo di luar negeri sudah ketinggalan kereta!!” ini ancaman absurd. “lah emang kita di luar negeri?” “luar negeri tu kayak apa to pak??!!” pikiran saya waktu kecil. Saya tidak mengira, ternyata kedisiplinan dalam bingkai bentakan ini yang kelak membawa say wira-wiri keluar negeri.

Itulah kira-kira, beberapa contoh pelajaran hidup dari Bapak yang baru saya pahami beberapa tahun belakngan. Setelah beliau tidk ada.

Lembut & Penuh Kasih Sayang

Penuh kasih sayang terhadap & membanggakan anaknya . Walau Bapak sering “nyukurin” saya kalau kesandung. Beberapa menit kemudian Bapak akan mendekat, “mana kakinya yang sakit?” saya hanya bisa menunjuk tertunduk. Sumpah saya takut. Pokoknya saya selalu takut sama Bapak. Padahal sejurus kemudian Bapak ambil Zamboek , obat balsam CIna yang bisa menghilangkan lebam seketika. Ini lebih ampuh dari obat2an apotek. Saya sendiri sejak Bapak meninggal ga pernah menjumpainya lagi. Ga tau Bapak beli dimana. Dengan perlahan Bapak mengobati kaki saya, “fuhh..fuh..sembuh-sembuh!! Besok lagi jalan ati2..”. baik kan aslinya?? Tapi saat itu saya tetep takut. Soalnya besok2 kalo kesandung disukurin dan dibentak lagi. T.T

Lelaki angkuh tapi penyayang

Pernah dalam suatu perjalanan, ketika Bapak dan Mama dalam such situation lalu Mama pilih naik kendaraan umum, sejurus kemudian Bapak menengok pada saya yang duduk di sendiri di belakang. seolah ingin memberi penjelasan pada saya yang "belum tahu apa2". "Wok, kalo Bapak meninggal, jangan galak sama Mama kayak Bapak yaa. Bapak yang salah"

Hikmah : saya tahu, dengan perfeksionisnya, Bapak ga mau anaknya sekalipun terluka. Termasuk membuat kesalahan dalam hidup karena tidak bisa memandang luasnya hidup ini.

Bapak juga sering ngelus2 saya, kalo mau bobo, kalo lagi khotbah (ya karna pas khotbah saya selalu bobo, astaghfirullah). Setiap dielus I always feel good like there is no such better thing I could find in this universe. Wah, ini bocoran untuk calon saya nanti. (Muti baca ga yaa,  wkwkwk).

Bapak selalu memuji kami di hadapan semua orang. Bahkan meski awalnya seolah pilih kasih lebih berat ke saya, ketika kakak saya lolos AFS ke Jerman, selain perlakuan beliau menjadi berimbang, Bapak juga membroadcast berita bahaia ini ke seluruh penjuru dunia. Mulai dari tukang ojek deket jalan raya, polisi cepek, sopir bis Departemen KEhutanan (Dephut), Satpam Dephut, Direksi Perhutani, sampai MEnhut pun tahu kalo Pak Sophie punya anak yang ke Jerman. Imbasnya kalo saya kemana2 sama mama bahkan sampai sekrang ketemu sodara, orang akan bilang, “ini anaknya yang ke Jerman?”.. tapi ga ada yang nanya, “yang Belanda yang mana”. Hahaha, soalnya pas saya AFS ke BElanda Bapak udah ga ada jadi ga ada yang promosi setajam SILET. Hihihihi

Seniman :

Di usia 20 an Bapak ini, ga tau gimana awalnya, adalah seorang pemain figuran. Bakat aktingnya sejak kecil mungkin yang mengantarnya menjadi seniman. Film yang dimainkannya adalah Saur Sepuh dan Satria Madangkara. Masih ada foto-foto Bapak dengan Advent Bangun, Berry Prima, Mantili (pemeran aslinya saya lupa) dan tokoh-tokoh lain. Meski hanya figuran, Bapak memang ahli beladiri setidaknya pernah mendalami Karate dan Kempo, juga sedikit Silat dan Taekwondo. Ada fotonya lagi nendang separo terbang di Parangtritis waktu masih kurus. Hehehe. Ketika kecilnya Bapak sempat menjadi “artis” terkenal seantero Pemalang karena menjuarai melodrama yang mengisahkan Ibrahim dan Ismail. Bapak memerankan Ismail, dan akan disembelih. Konon untuk beberapa lamanya acting Bapak membius dan menjadi buah bibir ibu2 se-Pemalang. Soal “diminati” ibu2 ini sepertinya nurun ke saya, seperti pengakuan kekasih saya, yang ngakunya belum pernah cemburu. sama saya Katanya,”abis yang suka sama sama mas paling ibu2 atau tante2..” Jeger!!!

Bapak juga ahli bermusik. Bersama kakak-kakak dan adik2nya ber 9 (Bapak 13 bersaudara) mereka sempat rutin bermain Band mengisi acara2. Saya lupa Bapak sebagai apa. Yang jelas Bapak mahir main gitar dan kibor, meski dia tidak bisa baca not balok. Kalo ada kuis taktikboom, sinetron tersanjung, Mc Gyver, atau siaran apapun di TV yang lagunya menarik, Bapak langsung duduk di kibor pencet2 tuts, tanpa not, tau2 dia udah bsa ngiringi lagunya!!! Edhian po raa.. saya sebetulnya pengen minta diajari, tapi lagi2.. TAKUT!!! Cuma berani denger dari jauh. Setiap ada acara kondangan Bapak pasti maju untuk nyanyi, entah kondangan keluarga, atau kondangan pejabat2 sekitar Deput. Lagu andalannya ada Crazy,by Julio Iglesias, selalu nyanyi itu. Kalo dobel baru ada lagu-lagunya Broery dan Vina Panduwinata. Kalo ini nurun sedikit ke saya, mski parau, pernah lah saya aktif di Nasyid. Hehehe, terakhir juara dua. Ngga percaya??! Serius..! tapi dari belakang!!! Hahaha, ini juga serius, kami juara 11 dari 12 peserta. Dan kami tuan rumah.. hahaha!! Yang beneran bisa nyanyi ya kakak saya, Edo. Buktiin sendiri beda tipis sama Sammy lah suaranya .Tapi spesialis lagu melo dia. Jadi kalo ada yang kawinan suka ga sinkron, sama dia malah dinyanyiin lagu2 patah hatinya Krispatih atau Ada band. Hahaha.. besok kalo saya nikah saya larang nyanyi patah hati !

Selain main film sebagai figuran, Bapak juga seringa ga sengaja nongol di TV, keakrabannya dengan pejabat dan jabatannya sebagai staff Humas kadang membuatnya sering kesorot berita sengaja atau tidak. Sumpah, banyakan yang ga sengaja. Hahaha. Missal Aa Gym diundang ke Dephut, pasti ada Bapak saya nempel2 beliau. Nanti ustadz siapa lagi, gitu terus pokoknya. Kadang Pak Mentri diwawancara, masuk TV lagi nampak berusaha ke-capture kamera dengan ndesek2 tapi smooth. Wah, banci kamera deh pokoknya. Lha ini agak nurun ke saya juga, biar tampang boros, beberapa kali saya masuk TV lah.. hahaha tapi ga ada yang penting, mulai dari figuran pada syuting Hikmah Fajar (dimoderatori oleh Kak Arief Rahman, pakar pendidikan Returnee AFS-USA) hingga peragaan pembuatan kertas daur ulang di Krucil SCTV (ini agak bermartabat kalo yg ini) hingga kesorot di TVRI ketika sedang masang infus di Puskesmas Sentolo, saat Bu Menkes kunjungan ke Jogja. (untung infuse nya berhasil!!!) hahaha.

Darah seniman juga yang membuatnya agak narsis,Bapak suka ngumpulkan majalh yang ada namanya, padahal majal2 itu emang majalah kantor. Hehe. Tapi bakat narsis Bapak ni memang ga ada matinya, bahkan hingga beliau meninggal! Seminggu setelah wafatnya Bapak, majalah INTISARI edisi November 2003 menampilakan berita tentang majelis dzikir Ust. Arifin Ilham (acara ini seminggu sebelum meninggalnya) dan disana ada foto Bapak saya dengan full face, kayak pas foto, ketika jamaah lain nunduk, keliatan wajahnya ndongak sendirian. Ckckck.. padahal ikut dzikir Arifin Ilham ini dipaksa bukan main sama Mama. Tapi malah Bapak yang kefoto. Walah Pak.. pak..

Supel, Humoris, dan Senang Berkawan

Bapak ni supel banget dan yang paling penting kesupelannya sering membawa rizki.  Hehehe.. Saya sudah sering ya cerita tentang kedekatan Bapak dengan mentri. Karena keahlian pijet dan kemampuan active listening nya Pak Mentri sering ngajak Bapak ke LN. Ini ada contoh lain. Suatu hari Bapak bertemu anggota DPR yang pernah sekedar bertemu dengannya di waktu dulu. Si angota dewan kemungkinan cukup lupa. Tapi bukan Bapak namanya kalo ga bisa tampil meyakinkan. Entah apa yang dibicarakan tiba-tiba Pak Dewan ini bilang.”

“Gimana dik Muslich, ada apa?”

“Gini pak, saya ingin ajak anak-anak dan istri umroh. Tapi dananya Cuma cukup bertiga (saya tahu ini hasil jual tanah 33 juta rupiah, saat itu umroh perlu sekitar 11 juta rupiah).  Masih kurang untuk satu tiket lagi untuk anak saya..” dan seterusnya. Bapak ngomong gini sambil mijet2, di masjid Nurul Jami, habis jumatan. (Koq kamu tau Djar?? Lha wong aku disitu ndengerin.. sambil sesekali masang muka melas.. hahahaha)

Singkat cerita Bapak pamit dengan sebuah amplop dari Pak Dewan itu. Dibukalah di rumah.. isinya..  memang Cuma selembar.. tapi 10 lembar 100 USD!!! AllahuAkbar!! Dengan kurs dolar cukup tinggi tahun 99 soalnya 11 ribuan kalo ga salah.

Kami pun berangkat umroh. Inilah pengalaman saya pertama ke luar negeri. Saya selalu diceritakan Bapak tentang pesawat badan besar, Boeing yang Jumbo Jet (Megatop dan Bigtop) seri 747-400. Memiliki dek atas bawah. Yang biasa Bapak tumpangi kalau ke LN dengan Pak Mentri. Kali itu kami naik garuda menuju Jeddah. Di pesawat Bapak pun ngobrol2 dengan pramugari. Ga ngerti saya ngobrolin apa, tapi si mba2 pramugari dibuat ketawa terus sama Bapak di kitchen area itu.  Bapak ni memang suka gitu, SKSD buanget, kronis! Dan mulai nurun ke saya. Sampe suatu ketika kami numpang pakai ihram di kitchen area, d dek atas! Mimpi saya sejak kecil, naik dek atas! Kami pakai ihram di pesawat karena pesawat melintasi daerah miqad (tempat meniatkan umrah), lupa nama daerahnya. Di kitchen area.

“Mba2, ini yang bawa siapa? (pilotnya maksud Bapak). Captain Sutedy bukan??!” Bapak.

“Ooh.. Bukan Pak.. kenapa? Captain Sutedy sekarang di penerbangan jalur….” Pramugari

“Ngga, ini anak saya pengen lihat-lihat ke kokpit…” (sempet2nya Bapak bilang, anak saya ganteng kan mba, padahal kelas 5 SD itu saya lagi bunder2nya sebunder bola senam.. kao sekarang kan ga gitu bunder, oval lah.. huahahaha)

“Ooh.. ya sebentar ya Pak..”

Selang beberapa menit sang pramugari kembali memberi kode untuk mengkutinya sambil bersikap tidak mencurigakan (melanggar peraturan aviasi internasional lo masuk kokpit, penumpang itu. Dan akhirnya di kokpit kami bertemu sang pilot!! Saya dengan mata kepala sendiri Bagiamna Garuda Indonesia, Boeing 747-400 ini melayang sendiri di udara dengan auto pilot!! Sementara saya duduk di kursi copilot dan Bapak memijit jari-jarinya sambil “mendiagnosis” sang pilot. Tampak semua “diagnosis” Bapak tepat an pilot senang bukan kepalang serta menyerahkan kartu namanya. Saya pun menatap kota Jeddah berkilauan di malam hari dari kursi copilot, tapi ga boleh foto2 sayangnya. Sungguh momen terdahsyat dalam hidup saya.

Hikmah : ya, itulah Bapak, pandai menyenangkan orang lain dan mencari kawan. Dale Carnegie menurut saya kalah sama Bapak! Kalo kata guru motivasi saya, Pak Tuung Desem Waringin, “kalau kita..sudah cukup baaaaanyak..memenuhi keinginan orang lain, pasti kita akan mendapatkan apapun yang kita inginkan..!!!”

Belakangan, dengan seragam pilot lengkap bersama 2 pramugari dan ground staff Garuda Jogja, sang pilot Boeing 747-400 hadir melayat Bapak sehari setelah meninggalnya.

“turut berduka cita juga.. dari Captain Sutedy..” kata pilot yang saya malah lupa namanya.

Huff… sumpah.. saya nangis ketika ngetik ini.   Pengen rasanya meluk Bapak (saya belum pernah meluk Bapak, seumur hidup.. sumpah. T.T tolong jangan tiru saya). Bus Dephut dari Jakarta datang ke Jogja membawa rombongan pelayat. Bunga2 (termasuk dari petinggi2) memenuhi jalan-jalan dan seingat saya bunga2 untuk Bapak jauh lebih banyak dari ketika wafatnya keluarga2 sepuh terdahulu.

NB:

1.       Kalau ada yang kenal Captain Sutedy, atau kerabat pembaca ada yg kerja sebagai air crew GIA, please bantu saya hubungkan dengan beliau, saya ingin sekedar mengucapkan terimakasih.

2.       Saya pernah dapat sponsor Garuda untuk presentasi di Berlin bersma Khairul Mawaris, Zulrahman Erlangga, dan Prenali. Tapi ini ga ada hubungannya dengan kisah Bapak. Mungkin Hanya takdir Tuhan yang memberikan banyak rizki kepada kami melalui Garuda.

Kemahiran pijet Bapak juga menjadi pintu rezeki yang lain bagi kami. Eyang Giri, (Marsekal Soegiri) adalah pemilik rumah bogor yang kami tempati. Marsekal Soegiri adalah kerabat dari pahlawan nasional Yoga Soegomo yang makam istrinya ada di kebun belakang rmah kami. Sekarang rumah itu telah diberikan kepada kami atas jasa Bapak dan Mama kami sekelarg menjaga makam dan kebun milik keluarg beliau ini. Setiap malam minggu kami sowan ke Eyang Giri. Biasanya Bapak mijet Eyang Giri, saya duduk di sampingnya nonton liga inggris. Pake v layar datar, jaman segitu taun 96 an 60 Inch. Jangan heran rumahnya eyang Giri ini luasnya 1,5 Ha.. hahaha ada lapangan tenis 2 kotakan, dan kolam renang. Mobilnya 9 an. Sambil mijit Bapak sering seolah menguji pengetahuanku soal bola. Nanti ditanya2 pemain ini siapa, asalnya mana, dll. Dan biasanya Eyang Giri suka ketika say bisa jawab semua pertanyaan Bapak. Intinya Eyang Giri impress sekali dengan keluarg kami. Selesai mijet nanti kami pamit pulang, Bapak dikasih nasehat. Saya dan kakak dikasih amplop. Hahaha!! Biasanya isi 15 ribuan, jaman segitu lo, setara 6 dolar!!! buat anak kelas 2 SD lagi!! Seueneng banget. Dari uang2 seperti itulah kami belajar nabung.

Bapak juga kenal akrab dengan tokoh-tokoh tertentu seperti Bapak Samhari Baswedan (seorang representative WHO pada masanya, paman dari Mas Anies Baswedan rector Pramadani-returnee AFS), juga pak Mahfud MD (saya ndak sudah lupa kisah tenatang beliau, tapi jaman Pak Mahfud belum sengetop sekarang Bapak selalu bialng kalau Bapak kenal baik). Dan beberapa tokoh lain. (kalo hal-hal gini, Edo, kakak saya lebih perhatian..

Ya dengan kalangan “selebritis” seperti: Aa Gym, Bapak ni sering SKSD. Sehinga setiap pertemuan kembali mereka kadang masih ingat. Ketika kami masih kecil dan ada acara hiburan di kantor, Bapak sering mengajak kami berkenalan dengan artis2 undangan, sebut saja Jojon, Cahyono, Esther (hayo masih pada inget gaa. -Djar2.. ngaca donk, elu lahir taun kapan..???!!!- hahaha), Kadir, Doyok, Ateng, Iskak, sampai Yuni Shara, Bob Tutupolie dan Broery insyaAllah kami pernah kalau sekedar salaman. Hehhe.. yuukk.. taoi jangan uji validasi dengan crosscheck atau malah triangulasi yaa.. mereka pasti lupa pernah ketemu saya. Apalagi sama duet Ateng dan Iskak. Bener deh jangan sekali2.. (emang kenapa Djar?? –mereka udah meninggal tauukk!!!-)

Kesupelan Bapak juga membawa kisah menggetarkan. Suatu hari di musim semi di Belanda. Di kota Wageningen di Apartemen Pak Ruandah (teman mama dan Bapak yang sedang s3, apartemen beliau sering menjadi tempat kumpul dan pengajian PPI wageningen, di mana saya sering menghadiri untuk melepas rindu nuansa keIndonesiaan) saya bertanya kalo mau potong rambut enaknya gimana. Tiba2 Pak Ruandha merekomendasikan Mas Ardi, mahasiswa S2. Alumni s1 Unsri kini di Kehutanan, Tmn Nas Gunung Gedhe Pangrango. Akhirnya hari pemotongan rambut pun tiba, medio April 2006. Di Kota Wageningen 135 Km dari Kota saya, Haarlem. Saya gondrong banget waktu itu (foto terlampir, ngirit bo, sekali potong 12 Euro, dapet kebab enam saat itu!!). Kami pun terlibat obrolan.

“Fadjar koq kenal Pak Ru dari mana?” Mas Ardi. Saat itu saya baru ketemu Mas Ardi u kedua kalinya jd belum akrab.

“Kebetulan temen Bapak dan Mama di Kehutanan..” Saya

“Bapak kehutanan? Siapa namanya”

“di Perhutani nya sih, Pak Sophie” Saya pikir paling ga kenal juga, karena Bapak meninggal 2003 Mas Ardi baru di Kehutanan dan bukan di Manggala, Jakarta

“heh,, Pak Sophie?!! Orangnya LUCU??!! Badannya GEMUKK??!!”

“Lhoh, Mas Ardi tau Bapak saya..?”

“Dulu, tahun 1998 saya ketemu beliau d suatu lokakarya di Pulau Anyer. Saya masih mahasiswa di Unsri waktu itu, ikut2 seminar saja. Iya beliau dari Perhutani, saya ingat sekarang.. beliau bikin orang2 ketawa kerjaannya.. lucu sekali orangnya.. hahaha Sekarang Bapak dimana Fadjar??!!”

“Bapak sudah meninggal, 2003 kemarin mas..” berhenti seketika Mas Ardi potong rambut saya, masih tesis beberapa helai di atas Koran yang jadi alas bahu saya..

“Innalillahii…”maaf, Saya ga sanggup.. maaf

Bayangkan.. dua orang (Bapak dan Mas Ardi) berjumpa hanya sekali di sebuah pulau, 8 tahun (1998 - 2006) kemudian masih memiliki memori tentang salah satunya.. dan kemudian berjumpa dengan anaknya (saya) di sebuah kota (Wageningen, Belanda) yang berjarak 12.653 km dari (pulau Anyer) tempeat pertemuan mereka.. apa ini kebetulan??!!! Gila sampeyan kalo bilang ini kebetulan!!! Tuhan ingin menunjukkan pada saya, kemanapun saya pergi, Dia bisa mengendalikan segalanya. Pikiran dan badan saya, dan juga orang2 di sekitar saya. I call it DESTINY..

Petualang:

Saat mahasiswa Bapak sempat cuti kuliah untuk ikut kakaknya, Prof. Abdul Salam yang mendapat beasiswa S3 di Australia. Selain membantu mengasuh anak2 pakde, ayah saya konon cari uang tambahan untuk melanjutkan kuliah dengan ngamen di Canbera tempat mereka tinggal. Disana Bapak berjumpa dengan sesame perantau dari Viet Nam. Sang perantau ini kemudian menjadi teman akrab Bapak selama Bapak beberapa bulan tinggal di Canberra sebagai pengamen dan pengangguran. Singkat cerita Sang Vietnamese ini ahli dalam pengobatan tradisional dan Vietnamese massage. Bapak pun belajar darinya. Hingga berpuluh-puluh tahun kemudian di Indonesia skill ini ternyata jadi salah satu sumber rezekinya seperti yang saya ceritakan. FYI, hanya dengan memijit2 jari2 Anda Bapak bisa mendiagnosis penyait2 kronis seperti diabetes, asam urat, batu ginjal, batu empedu maupun akut seperti maag akut, bahkan kasus2 psikosomatis dan tanpa bertanya bisa tahu masalah utamanya “si pasien” apa. Apakha masalah keungan, masalah dengan pasangan, anak, jabatan dll. Kasarnya kaya dukun lama2.. eh Dirut dink, direktur Urut.. hahaha.

Kebetulannya, baru2 ini saya berkenalan dengan salah satu wadek Universitas Kedokteran dan Farmasi Ho Chi Minh City, dan beliau sangat mengapresiasi saya sekali. Karena saya melakukan sedikit saja hal yg dia butuhkan, dia samapai2 kasih saya kado 2 kali yang dibungkus sangat rapi. Oya, beliau bernama dr. Tuan. Wadek dari Vietnam ternyata lebih perhatian daripada wadek sendiri.. hahaha.. dan saya pikir ini pasti ada hubungannya dengan kisah Bapak saya bersama ahli pijat dari Vietnam itu. Sama2 pengobatan, cuma beda istilah saja bidang kami sekarang kedokteran, kalau Bapak dan sahabatnya kepijatan.. hehe. Btw, hebat Bapak ya, Cuma beberapa bulan belajar bisa diagnosis macem2. Saya sendiri 4 tahun kuliah baru s1 aja, belum legal.. hahaha

Masih banyak kebetulan2 dalam hidup saya terutama selama mengikuti AFS dan bepergian di luar negeri. Missal, SD kelas 2 saya jadi figuran hikmah fajar pembawa acaranya Kak Arief Rahman. SMA di IC Ka Arif Rahman ternyata pendiri Lab School yang bisa dibilang “saudara saingan” IC dalam pendidikan islam modern. Eh, saya ikut AFS ternyata Kak Arief Rahman lah pengisi materi yang intinya menjadi pribadi yang tetap religious di tengah masyarakat multicultural di barat, ketika kami siswa pertukaran pelajar Bina ANtarabudaya melakukan orientation camp di Desa WIsatan TMII, Juli 2005. Herannya, tanpa kenal tanpa koordinasi, Oktober 2005 saya sedang liat2 suvenir di kota Paris di sekitar bilangan Champ d’Elysse sampai Eiffel (bilangan?? Bahasa lo ndeso Djar!!! Hahaha, biarin, ndeso2 gini udah ke Paris 3x.. hihihi.. astaghfirulah, ampuni hamba ya Allah..). berjumpa dnegna orang Indonesia sedang memilih2 suvenir. Tahukah siapa beliau??!! Ya Kak Arief Rahamn yang sedanga menghadiri undangan Unesco, saat itu menjabat Ketua Komnas Indonesia u UNESCO. Beliau pun mengundang saya menghadiri ceramahnya di KBRI Paris dan dia khir memberikan selembar Euro, “untuk beli Coca Cola..” kata beliau.. hehehe.. Masih disimpen tuh uangnya. Pas saa di UGM dalam suatu acara ketemu lagi dengan beliau 2008 kemarin bercerita lah saya pada beliau meski beliau lupa2 ingat. Ini masih ada lagi lanjutannya, terkait kakak Beliau BU Mien Uno dan ponakan Kak Arief sekaligus putra Bu Mien Uno, yakni Sandhiaga Uni. Huaahhh.. panjang nanti.. hehehe

Intinya… Ga slesai2 kalo bicara kebetulan!! Soalnya itu berarti bicara takdir Tuhan. Dan balik lagi, niat saya kan bicarain dan mengenang Bapak.. soal kebetulan2 yg saya hadapi ini, kalau saya ga kuat iman, mungkin saya sudah gila sekarang. Alhamdulillah, kebetulan2 yang saya alami di seantero dunia ini semakin menguatkan saya bahwa justru ga ada yang namanya kebetulan. “Si Kebetulan” terlalu hebat merangkai hidup saya yang penuh keajaiban ini. Tapi “kebetulan2” itu merupakan takdir yang memang sudah Tuhan tuliskan pada Lauhul Mahfudz.

Rajin Ibadah:

Sholat

Bapaklah yang mengajari kami untuk mendirikan sholat. Sementara mama menjaga konsistensinya. Sampai yang terakhir saya tahu Bapak masih terbata-bata dalam membaca Alquran. Kata pakdhe-pakdhe, waktu kecil Bapak ni kesayangan semua orang. Karena pernah jadi anak bungsu sekitar 6 tahun. Bahkan adik bungsu Bapak sepertinya kalah bungsu dibanding Bapak. Ketika semua saudara dan tetangga masuk TPA, Bapak berlagak menjadi asisten sang guru TPA, yang nakut-nakutin siswa yang lain dengan ancaman melaporkan kepada huru ngaji bagi yang berniat bolos. Tapi ujung-ujungnya ya Bapak sendiri yang bolos. Makanya ga heran kalau bacan Quran Bapak mungkin di bawah yang lain, dan setiap kami sholat berjamaah, bacaan surat pendeknya relative itu2 aja. Favoritnya “al ikhlas” sama “annas”, kadang variasi pakai al-insyirah dan alkafirun.

Meski begitu Bapak tidak pernah luput membangunkan kami untuk sholat tahajud (meski kadang pake aer, hahaha) dan mengingatkan kami sholat dhuha.

“ditunggu dari Perhutani ya mba..” Suara mba2 operator telepon di Perhutani Pusat, kantor Bapak. Sejak saya kelas 1 SD, Bapak rutin menelpon saya mengingatkan saya utnuk sholat dhuha (kalau masuk siang sekolahnya). Kadang juga zuhur dan ashar. Herannya si mbak2 operator selalu manggil saya “mba”, mungkin suara saya belum jadi saat itu, masih suara galau-galau ga jelas gitu kali ya. Atau dikira pembantu di rumah. Hahaha.

Meski bacaan arabnya ga bagus, Bapak adalah orang yang berhasil lebih dulu menajarkan saya hafal ayat kursi usia 3 tahun dan doa setelah sholat dhuha sekitar usia 5 tahun. Hanya cukup dengan mengikuti kebiasaannya. Beliau mengajar saya tanpa teks. Alhasil di sekolah beberapa kali guru kami meminta saya untuk memimpin membaca doa setelah sholat dhuha. Selain nyuruh2, Bapak juga rajin ngasih contoh, dari yang saya lihat memang betah banget tahajud lama-lama dan dhuha sampai 12 rakaat. Bahkan di kantor tu kerjaan utama Bapak ya sholat dhuha. Ga percaya? Bahkan Bapak tu aslinya ga kerja kalo di kantor.

Ni ya, kalau saya ikut. Jam 8.00 tiba di kantor Gedung Manggalawanabakti Senayan lantai 9 (direksi perhutani) naruh tas, sapasapa semua orang ruangan lalu haha hihi bentar. Bikin orang ketawa. Terus ngenalin saya, yang sudah kenal saya disuruh salim ke seluruh ruangan. Sambil saya salim sambil Bapak koar2 tentang saya. Awalnya senng, lama2 malu. Hehe, diulang2 terus “kasetnya”. Dan yang paling pasti ke ruangan direktur, kalo pak direktur ga sibuk, diajak ngobrol2 sama Bapak sambil dipijit2 tangannya. Setelah itu kita ke mushola, sekitar 8.45, saya paling banter Cuma 4 rakaat dhuha, sisanya nungguin Bapak 12 rakaat plus sujud lama banget. Kadang sambil nangis. Saya Cuma nunggu kadang sambil tiduran. Sambil baca bulletin, kadang ya Cuma guling-guling di karpet empuk. Apalagi musholanya wangi dan adem AC nya. Tolong jangan bayangin saya lagi guling2 sekarang!! Kalo mau bayangin yg pas badannya masih kecil!! Kalo bayangin saya sekarang guling2, bayangannya bisa ketuker sama drum molen semen lai muter2 nanti. :D. tiba2 setelah itu sudah mau jam 11, nunggu doanya lama banget, biasanya saya sering ikutke kantor kalo jumat. Jadi kami segera langsung siap2 jumatan tapi mampir ruang mama di lantai 2 (Biro Keuangan Departemen Kehutanan). Nanti disana Bapak haha hihi lagi. Semua temen mama kenal Bapak. Tapi belum tentu teman Bapak hafal mama. Inilah keajaiban Bapak. Dimana-mana (kantor, bis, halte) kerjaanya ngobrol sama ngelawak. Sambil nunggu jumatan pasti ada aja lawakan, saing seringnya, kalo disuruh ngulang saya ga bisa.. hahaha makanya skrg tau kan kenapa saya jayus. Ibarat dalam farmakoterapi penggunaan antibiotic berlebihan, saya ini sudah resisten.. wkwkw. Lalu kita sholat jumat, lalu makan. Setiap sholat Jumat karena masjid Kehutaan, Nurul Jami ini bagus, lantainya jati, AC nya duingin, karpetnya empuk,ruangannya wangi, setiap khotah pasti saya tidur (Djar,djar di Ibsin FK UGM aja kamu sering ketiduran pas khotbah). Kenangan terindah saya adalah kalau saya mulai klintuk-klintuk, Bapak langsung nepuk pahanya yang artinya kepala saya bisa saya taruh disana dan empuknya lebih empuk dari bantal yang harganya 2 juta. Dan tidurlah saya dalam damai.. selesai Jumatan kami jalan keluar komplek Kehutanana menyebrang jalan lalu menyebrang rel kereta arah Palmerah – Tangerang menuju rumah makan Padang yang maknyus, Pagi-Sore namanya.

Tau-tau sudah mau jam 2. Masuk ruangan Bapak ngrol san ngobrol sini lawak sana  lawak sini. Jam 3 kita sholat asahar lalu menghampiri mama di ruangannya untuk pulang. Di ruangan mama sementara mama utak-utik dengan kerjaan Bapak bikin semua temen2 mama ketawa. Hahaha.. pak pak.. dan tahu2 sudah jam..4 jam pulang kantor.. huahaha bener kan ga kerja diaa.. meski gaji ga seberapa, tapi rejekinya ada aja.. hahaha.. Bapak.. bapak..

Puasa

Soal puasa Bapak jagonya puasa senin kamis, yang dengan keras saya coba tiru tapi untuk urusan konsistensi masih kalah jauh sama Bapak. Kecintaan saya dengan puasa Senin Kamis seiring meningkatnya rasa sayang saya sama Bapak. Karena setiap saya puasa atau sehari setelahnya saya sering mendapat rezeki tak terduga2. Sayang lagi2 saya telat sadarnya, saya merasakan semua ini justru setlah Bapak ga ada.

Hobi Umrah

Ini bukan sembarang Hobi apalagi pake modal sendiri. Sepanjang hdupnya Bapak Haji 2x dan umrah 4x. masing sekali yang modal sendiri. Sisanya???!!! Ditraktir orang!!! Biasanya karena itu tadi senang dengan Bapak. Entah karena perjumpaan pada umroh sebelumnya, atau bos di kantor yang negrasa Bapak sebagi pembimbing spiritual yang tepat. Lucu ya, baca hijaiyah saja Bapak terbata2. Tapi bukan Bapak namanya kalau nyerah, dengan mantap dan pedenya Bapak pasti bisa melafalkan doa2, karena selain mulai hafal, di buku doa2 umroh haji ka nada huruf latinnya!!!! Hahahaha.. Bapak.. Bapak..

Donor

Samapai wafatnya Bapak sudah puluhan kali mendonorkan darahnya, sertifikat PMI yang terakhir adalah 75 kali, tapi sesungguhnya lebih, karena PMI hanya mengeluarkan setiap 25 x donor pada saat itu. Kenangan indah donor bagi saya adalah, di PMI Bogor pendonor itu dapat mi instan dan telor 2 butir sama susu. Karena saya ga suka susu, biasanya saya makanlah mi instan bersama telur 1. Satunya lagi buat bapa bersama susu. Entah mengapa mi rebus instan di PMI ini asanya uenak bangett beda sama di warung burjo meski sama2 indomie. Mungkin karena sama Bapak terus ya makannya.. T.T.. Ya Allah, netes lagi.. Bapak.. Bapak.., Karena ini makanya saya sekarang sberusaha donor sesering mungkin. Mumpunga da yang bisa disumbangin. Jangan dipikir2 lah.

Terkait kesehatan juga, Bapak ni paling benci sama perokok, sodar2 yang ngrokok pasti dibilang “tu liat kalo ngrokok kaya si ini si itu, kurus, penyakiten, item, lunglit (balung—kulit), kebetulan sodara2 kami yg ngrokok profilnya kayak gitu, sementara Bapak subur dan besar.. hehehe. Bapak juga beratus2 kali mengatakan..

“awas, kalo sudah besar jangna ngrokok.. jangan mau diajak temennya ngrokok.. kalo sampe ketahuan Bapak ngrokok.. Bapak jantur kamu..!!!”

Jantur itu bahasa jawa yang versi Bapak artinya digantung dengan kaki di langit2 kepala di bawah. Jadi sekarang ngerti kan kenapa saya benci dengan aktivitas mereokok, meski kadang kebawa samape kepada perokokny (maaf ya) dan ikut Bu Yayi, dosen saya yg juga Kakaknya pakar telematika Roy Suryo, yg kakaknya adalah teman nge-briek eyang sya (haiyah, ini ada cerita2 kebetulan lg tp ga slesai2 nanti) dalam kegiatana/proyek QTI – Quit Tobacco Indonesia. Ya karena Bapak anti-rokok! Makin benci saya sama rokok.. makin dekat Bapak dalam hati saya. Nah, buat orang tua, kalo mau bikin anaknya ga suka ngrokok, carane  Bapake inyong bisa ditiru!!

Pembaca budiman maaf uraian saya makin lama makin singkat.. nulis ini benar2 berat bagi saya, di satu sisi saya senang karena memori itu kembali, tapi di sisi lain dari tadi saya tu sudah nangis terus.. T.T

Jadi makin kemari makin singkat..

Suka Beramal

Setiap kami sholat Jumat atau sholat Ied pasti Bapak sudah menyiapkan uang ribuan rupiah bagus2 dan diberikan pada saya dan kakak. Bukan untuk disimpen, tapi dimasukkan pada kotk amal. Inilah cara Bapak mengajarkan kami berinfak dan beramal.

Ketika saya SD, Bapak dan Mama punya dua rumah kosong. Bukannya sok kaya, rumah cicilan semua ini, yang total bulanannya sekitar 500 ribu. Gabungan gaji saat itu 1,5 juta. Murah ya, rumahnya iya, selain kecil2 juga belum krismon. Karena potong gaji, harga sudah ditentukan di awal, tarifnya flat. Jadi pas krismon pun ga ngaruh. Bisa dibilang kaya beli rumah separoh harga. Kaya gini ni yang saya bilang Matematika Allah, kalo pake Matematika dunia dengan basis anggaran PNS mana kuat. Instead of dikontrakkin dua ruamh ini dihuni secara Cuma-Cuma oleh 9 orang. (8 anak IPB, 1 guru sekolah analis kimia bogor, 1 buruh tempe). Kebanyakan dari keluarga sederhana. Meski ada yang mampu juga. Setiap beberapa akhir pekan sekali bersama Bapak dan Mama kami kadang mengirimi beras, atau panenan hasil kebon: pete, nangka, sukun, duren, rambutan. Sebagai “balasannya” ada mas2 mahasiswa yng member kami les mata pelajaran, sekaligus ngaji, dan juga gitar. Kumplit kan. Itung2 Bapak dan Mama ga keluar ongkos les tapi anak2nya tau2 jadi pinter. (Iya apa???!! Hahaha) inilah the power SILATURAHMI..!!! yang mengharukan, sebelum ketemu Bapak dan Mama ada salah satu diantara mas2 ini yang ga makan sampai 3 hari..!!! beliau2 menempati rumah2 tersebut sekitar 4-6 tahun selama studi hingga masa awal kerja. Ahamdulillah hinga saat ini semuanya baik pada kami seperti kakak sendiri. Dan sudah menjadi orang 2 sukses insyaAllah. Dari yang ke kampus IPB jalan kaki, sekarang sudah punya mobil sendiri. Ya mas2 itu amalnya juga banyak. Mereka bergiliran jadi pengisi pengajian di komplek sekitar juga.

Nah, efek dari kebiasaan Bapak dan Mama perhatian dengan (anak) orang lain berimbas pada kami. Misalnya pada saya. Dari 23 tahun (duoh, ketauan umur aslinya, pasti ditawain temen kuliah seangkatan saya nih.. hahaha) hidup, 11 tahun saya habiskan dengan hidup numpang dan tinggal di asrama. 3 tahun di rumah pakde, 3 tahun asrama, 4 tahun di rumah eyang, 1 tahun di Belanda. Coba, kurang baik apa mereka, turtama yang ga kenal saya di Belanda, bukan siapa2 bahkan seiman pun tidak (hehe, kebetulan atheis juga) tapi mau nerima saya 1 tahun lamanya. Selama di Belanda dan sekitarnya banyak yang perhatian dan menolong saya dan teman dalam berbagai bentuk (transportasi, konsumsi, akomodasi). Termasuk ketika saya trip eropa 3 x pada 2010 lalu. Berikut ini saya urutkan hubungan kami dan kapan kami secara intens berhubungan

1.       Pak Ruandha: teman sebus dan sekantor Bapak-Mama | PhD student wageningen | AFS year

2.       Pak Djauhari Oratmangun: sahabat dari teman SMP nya Mama | Kuasa Usaha ad Interim RI untuk Belanda (Kini Dirjen ASEAN, Kemenlu RI) |AFS Year

3.       Keluarga Novriyanto: kenalannya kenalan mama di ESQ | Manager di TOTAL Oil Company Ned | AFS year

4.       Keluarga Besar PPME: kenal di Training ESQ Eropa|AFS year

5.       Luis dan Annette: hostparent u exchange week | AFS Year

6.       Familie Krotz: Hostfamnya Edo | Hamburg | AFS Year

7.       Familie Eliana: Hostfamnya Edo | Frankfurt | AFS Year

8.       Louisa : kenaan di atas kereta Bima | Trip ISCOMS Groningen Belanda

9.       Oom Toyo dan Tante Jean: sudah seperti orang tua sendiri setiap kali ke Belanda | sejak AFS year hingga kini

10.   Mas Azis Nurwahyudi: seniornya tante di HI UGM, senior kami di AFS | Kuasa Usaha ad Interim RI  untuk Rep Ceko |Exchange di Olomouc, Ceko.. aktif komen2an di hingga saat ini hehehe

11.   M Qaidi Barokatillah: temen nasyid dan sekamar di IC | medical student di Universitat Erlangen| Exchange di Olomouc, Ceko

12.   Kelg Bapak Yul Nazaruddin: ortunya temennya temen | Atase Pendidikan KBRI jerman | Trip ESC Berlin

Well.. well well once more.. I call this the power of SILATURAHMI!!!

Tanpa mengurangi rasa hormat. Kebaikan2 beliau secara detail belum bisa saya muat, khawatirnya belum berkenan karena mempertimbangkan privasi yang bersangkutan.. yang jelas semuanya super duper baik sama saya, bahkan kebanyakan eh coba sayalihat lagi. Ternyata semuanya pernah nampung saya di kediamannya subhanallah.. siapa saya… Punya apa saya.. sehinga orang2 luar biasa ini mau menerima saya. Hanya kebaikan hati mereka dan amalan2 kedua orangtua saya yang membuat banyak “tangan2” ajaib mau “memelihara” saya kemanapun saya melangkah. Sehingga saya tidak pernah ragu kemanapun akan melangkah. Seperti yang pernah saya ungkap,

“Rejeki bisa datang dari MANA saja, makin sering KEMANA-MANA.. makin banyaka rejekinya.. hahaha” betul apa betul bengett hayooo..???!!

Wong ayatnya aja ada di surat Al Hujurat, hayoo ayat berapa.. buka aja.. saya ga ngarang koq. Saya ini bukan pengarang, tapi penulis. Otak saya buat kuliah aja pas-pasan koq disuruh ngarang. Hehehe. Karena itu pulalah di blog saya isinya tulisan bukan karangan. Kalo ada kisah asli untuk ditulis.. kenapa harus ngarang??!!!

Baiklah pembaca, masih banyak kisah menarik tentang Bapak dan efeknya pada hidup saya. Tapi itu tadi berat nulisnya. Hati saya bener2 ga sampe nuangin tiap detilnya. Intinya dalam memperingati ultah Bapak kali ini saya mau bilang..

“Pak Alhamdulillah 11 Maret kemarin Wowok sudah yudisium. Artinya sudah lulus s1 kedokteran UGM dan tepat waktu. Meski IP nya ga cum laude gapapa ya Pak.. 3,09 saja. Bapak dulu skripsi aja dibikinin mama to Pak.. dan selesainya juga mundur hampir tiga tahun. Kalo ga gara2 disuruh mbah kakung cepet2 nikah, mungkin ga rampung2 ya Pak. Kita beda tipis koq pak, kalo wowok skripsi ga dibikinin calon, tapi bikinnya ditemenin, hehe. Dan kalo akhirnya berusaha cepet2 lulus karena juga gara2 udah kepikiran nikah, selain karena mau cepet2 cari kesempatan2 lain: magang, exchange berbeasiswa, sambil cari S2. Semoga semua bisa tercapai, supaya bisa menuhin mimpi Bapak yang lain yang belum sempet, injak semua benua, sekolah di luar negeri dan bisa jadi “orang” seperti orang2 yang selalu Bapak ceritakan: Dubes, Menteri, Atase, Konsultan INGO, dll. Btw Bapak ni aneh, kalo cerita yang dibanggain foto sama dubes, foto di depan mobil CD (corps diplomat), dll tapi anaknya disuruh jadi dokter. ALhasil wowok punya mimpi u bisa berkarir di WHO Pak, ya dokter ya diplomat.

Pak, ini semua buat Bapak dan Mama. Kalau dikasih umur panjang, usai wisuda, dari GSP Wowok, sama Mama dan Edo, mugnkin juga sama Calonnya Wowok (Btw, I am sure I found someone already Pak, how I could be sure? Somehow she’s able to treat me like you and mama did when I was child. Shea understand what I like and don’t easily, without no telling in advance. And somehow she really ease my way to achieve my dreams, which most of them are yours.. funny thing, sho colud doing massage very well like you), pasti langsung ke makam tunjukin ijazah ke dan berdoa untuk Bapak, cium nisan Bapak. Wowok nyesel ga pernah meluk dan cium Bapak, sekarang Cuma batu yang bisa Wowok cium. Semoga Bapak puas dengan pencapaian sementara ini, wowok sudah sengaja ga daftar Industri ITB dan HI UI/UGM yang sudah lama dipingini. Juga coret beasiswa APU Jepang dan Kyunsung Korea. Supaya bisa jadi dokter seperti impian Bapak, anak Bapak harus ada yang jadi dokter atau diplomat. (karena edo udah pilih area diplomat, brarti Wowok harus sekolah dokter ya Pak).

Ajaib pak, sebelum tes kedokteran UGM 2007 lalu Wowok berdoa, “Ya Allah, kalau ini jalanku dan ridho Bapak, terimalah aku di FK UGM”. dan hasilnya wowok yang ranking 17 of 24 diterima sementara teman2 yang ranking 1-16 tidak. Di jalur PBS UGM 2007 ada lima anak IC yang ketrima dan tidak satupun dari jalur UM. Dari lima anak, Wowok yang paling bodoh akademisnya. Yang lebih pinter malah ada yg ga ketrima. Wowok pikir ini memang ridho Bapak. Masuk PBS mahal Pak, 80 juta. Beruntung Bapak dan Mama yang “cuma” PNS punya tabungan. Selain dari kerja keras mama sepeninggal Bapak juga dari tinggalan Bapak hasil dines luar kota (yg padahl sering wowok doain biar Bapak ga pulang2 karena takut Bapak yang galak), hasil Bapak mijet, hasil Bapak jualan madu di koperasi Manggala, hasil Bapak ga pernah mau nyalain AC demi ngirit bensin, hasil Bapak mbentak2 kalo kami lupa matiin air-kompor- listrik-TV demi iritnya pengeluaran, dan jerih payah Bapak dan mama lainnya.

Karena PBS mahal dan mama harus biayain dua anak kuliah. Wowok pun mulai jualan dari semester satu Pak. Kalo wowok berhasil ngejual apapun Barang wowok inget Bapak jualan madu, jadi seolah Bapak ada disini. Wowok jualan tas & pernik2 cewe, ikut MLM Melilea, jualan pulsa, jualan Buku kedokteran yang diborong dari Malaysia. Alhamdulillah puncaknya bisa menghasilkan dari bisnis pulsa yang terakhir. Banyak yang bilang Wowok aneh, ada yang bilang bakul nyambi kuliah. Ada yang bilang ga niat kuliah. Pas SMA pun ada yang bilang kita miskin Pak. Tapi Wowok ga peduli, Bapak ga pernah malu berjuang untuk kami. Wowok pun ga akan malu berjuang untuk impian Bapak: anaknya bisa sekolah dokter dan ga mau ndobel2 beban mama yang sendiri. Bahkan dengan bercanda tapi dalam hati serius wowok selalu bilang pada kawan2, “pokoknya semua yang bisa aku jual selain HARGA DIRI ya aku jual! ” semakin banyak yang wowok jual semakin meningkat harga diri ini pak, karena perjuangan Bapak dan Mama dengan berjualan menunjukkan harga diri kita untuk tidak hanya diam menunggu tapi terus berusaha. Seperti selalu yang Bapak ucapkan, “ever onward no retreat”. Meski TOEFL Wowok >550, Wowok baru mengartikan ocehan Bapak ini saat kuliah. Dan itu sudah cukup untuk WOwok bertahan dalam kondisi terberat seperti apapun! Oya, ada uga temen yang bercanda, which sounds funny, instead of saying “jar, jangan keseringan bisnis terus, nanti kuliahmu keteteran” they say, “jar, jangan keseringan kuliah nanti bisnismu keteteran.” Qiqiqiqiqi.. aya2 wae..

Di IC Wowok sudah mulai jualan susu sebulanan sejak Bapak meninggal pak, awalnya karena suatu hari wowok tahu gaji mama “Cuma” 1,7 juta, pensiunan Bapak Cuma 366 ribu!! Sementara bayar sekolah IC saja satu juta, belum kuliah Edo. Dan pasti mama menangin anaknya. Dulu wowok mikir singkat aja, nanti mama makan pake apa?! Dari jualan susu 3 tahun wowok bisa bayar londri, fotokopi, jajan sendiri dan punya sisa tabungan yang kelak jadi modal usaha selama kuliah.

Allah memang Maha Kaya dan Maha Mengkayakan Pak, dhuha, senin kamis dan tahajud Wowok memang jauh dari ajaran Bapak tapi dengan pasti sekarang kami bertiga sudah merasakan manfaatnya. Siapa nyangka Pak, anak yatim bisa ke eropa 3x dalam 4 bulan. Mengunjungi 11 negara dalam 10 Bulan. Disponsori  Garuda, terbang gratis ke Belanda sampai 2x!!! bahkan mama, yang Bapak bilang pasti ketinggal kereta kalo di luar negeri, akhirnya bisa bener2 ke eropa gara2 tiket gratis garuda, dang a ketinggalan kereta kita disana. Hehe, berkat bentakan2mu Pak! Dapet sponsor dari univ dan fak (padahal wowok ga pinter lo pak) dan dibantu orang2 di penjuru negara sampai berjuta-juta jika dirupiahkan. Ada yang ngasih wowok tas seharga satu juta. Ada yang memberi ikut nginep berhari2 hingga bisa saving jutaan rupiah, ngasih makan, ngasih tumpangan. Bahkan ada diplomat yang minjemi apartemnnya di Eropa 2 hari ketika beliau harus tugas ke Jakarta. Beliau juga memotivasi dengan selalu mengatakn “you can always be diplomat at your own Djar” karena tahu Woowk berkecil hati dengan status mahasiswa FK, instead of HI. Dia juga yang menunjukkan SMS2nya dan BBM nya dengan Pak Marty Natalegawa, which is so damn motivating!!! Beliau juga yang member kesempatan Wowok nari di festival budaya internasional di ruang terbuka di hadapan warga kota Plzen. Hal lain, diantara euro trip itu Pak, bisa2 nya mampir Dubai 6 kali dalam 3 bulan, salah satunya nginap gratis di Dubai Int’al Hotel yang ada kursi bisa mijet2 sendiri itu lo Pak, wah ndeso tenan, malem itu nyaris ga tidur karena mempraktikkan semua jurus yang bisa dikeluarin kursi pijet ini. Hahaha. Kalo kata temen sekamar waktu itu, Aris, ‘berasa di emperan surga, gini kali ya kursi di terasnya surge”. Kalo diitung rupiah, ga nyampe pak matematika nya, matematika Allah Maha Dahsyat. Dan Wowok yakin ini karena tinggalan amalan Bapak.

Meski sekarang gaji mama belum tembus 3 juta dan pensiunan wafat Bapak < 700 ribu, Alhamdulillah kami bertiga tidak hidup makan tabungan. Malah pelan2 kami bisa buat tabungan lain dan terus sekolah menuju cita2 selanjutnya. Kami sudah tidak perlu apa-apa lagi pelajaran hidup, doa dan yang terpenting impian Bapak yang dititipkan pada kami sudah cukup untuk melanjutkan segalanya!

Oya Pak, satu hal lagi. Kamis minggu lalu, salah satu staff WHO  Geneva , Ms.K memberi kabar mengenai kemungkinan mereka menerima Wowok sebagai intern di sana, setelah seblumnya Wowok mengajukan lamaran. Selasa ini beliau menanyakan intention Wowok untuk magang di WHO, dia bilang hal-hal yang positif mengenai kemungkinan Wowok bisa diterima. Wowok langsung teringat Bapak yang terus menghujani wawasan “keluarnegrian” sejak kami kecil. Koar2 soal diplomat dsb. Wowok pun benar-benar berdoa kenceng supaya dapet peluang ini. Selalu kebayang how woud it be if you were here.. you must have been supporting me. Sang staff berjanji menghubungi lagi kamis. Baru kamis ini, sore tadi colleague nya (Mr. V) staff yang kemarin telpon. Alasan yang telpon adalah Mr. V bukan Ms.K adalah agar semakin banyak staaf di bagian ini yang kenal WOwok. (it sonds my dream get closer). Sehingga Wowok berharap, Mr.V bisa member kepastian bahwa Wowok diterima atau tidak, secara explicit. Tapi sayang, hingga Wowok ”mendesak” agar Mr.V memberi klarifikasinya via perbincangan telpon tadi dia belum bisa sampai diskusi lagi dengan Ms K. yang hasilnya kira2 minggu depan. Wowok sempat kecewa, karena hari ini tanggal 17, wok pengen konfirmasi dari mereka jadi kado untuk Bapak, tadinya. Ya sudah. Tapi ternyata Allah memang Maha Kuasa, malem ini, sesaat sebelum tidur ada email dari Ms K masuk yang menyatakan,

Dear Fadjar, I am pleased to inform you that we would like to invite you to join our team as intern this summer.

Allahu Akbar!!! Satu jam sebelum tanggal ulang tahun mu Pak , email dari Ms K masuk ke BB yang baru lunas bulan ini. Seolah Allah ingin kembali menunjukkan kuasaNya, mengabulkan doa Wowok, agar ini bisa menjadi kado ultah Bapak..

eh bentar, sedikit joke Pak.. Bapak tau kenapa anak yatim seperti kita mostly bisa survive?? "ibarat buah simalakama, dimakan bapak meninggal, tidak dimakan ibu meninggal." Konon, anak yatim nothing to lose u makan buah simalakama dan buah2 pahit  lainnya dalam hidup ini, toh sudah yatim ini.. hehe ^^

Selamat ulang tahun Bapak.. Bobo yang tenang ya Pak, karena mimpi-mimpimu akan selalu hidup bersama kami, anak-anak laki kebangganmu.. Edo & Wowok

Your Beloved Son,

Wowok –Mochammad Fadjar Wibowo-

Most created in Baciro 14 Maret 10.00,

continued in Pejaten 18 Maret 00.41,

finished in ASEAN Secretary Library 18 Maret 14.41

 

NB: hari ini dapat BBM dari Mama, mengungkap sebuah fakta. Bahwa mbah Kakung memberi nama mama Retno Wiwiek Soulyanti , karena Mbah Kakung berharap anaknya bisa jadi dokter seperti Prof. Julie Sulianti Saroso, dokter yang aktif di WHO dan namanya menjadi nama rumah sakit di Jakarta. Lebih lanjut tentang beliau silakan buka http://id.wikipedia.org/wiki/Julie_Sulianti_Saroso jadi kata Mama, sebetulnya saya “korban” impian masa lalu Mbah Kakung yang pingin anak keduanya jadi dokter yang eksis di WHO seperti Prof Sulianti dan cita2 Bapak dan Mama yang sama2 tes Kedokteran UGM tapi ndak diterima. Semoga saya bisa menjadi pewujud mimpi2 mereka ya Allah.

 

Kalau ada ilustrasi berupaharta, angka, rupiah, pencapaian dalam tulisan ini bukan maksud penulis untuk riya atau membanggakan diri. Tapi sebagai manusia, makhluk yang senang berhitung, membandingkan, dan visualisasi, semoga ilustrasi2 di atas dapat member sense dalam tulisan ini. Jika ada salah ucap, izinkan penulis menyampaikan maaf. Jika ada ungkapan riya, semoga Allah mengampuni hamba. Mari kita beristghfar 3x... Semoga bermanfaat untuk kita semua

]]>
http://wm290764.dbswebmatic.com/rss-comments/
Satu Subuh, Berjuta Mimpi!!! http://wm290764.dbswebmatic.com/?pg=articles&article=14141 http://wm290764.dbswebmatic.com/?pg=articles&article=14141 Fri, 11 Mar 2011 06:56:08 +0700 Mutiara & Fadjar Motivasi Spiritual http://wm290764.dbswebmatic.com/?pg=articles&article=14141

Nah mari sekarang kita masuk ke inti permasalahan… Kali ini saya lagi-lagi ingin bercerita tentang keajaiban Tuhan, beberapa anugerah tak terhingga yang dalam 2 hari ini saya alami, ada sedikit bumbu2 musibah dan romansa sedekahnya juga lho.. yummy deh!!!

Hari selasa (7/3) kemarin hari yang cukup hectic buat saya. Setelah harus mendistribusikan hasil revisi skripsi kepada para pembimbing dan penguji, Saya bersama kawan baik saya ZA berburu dr. R. SpKJ. Kami bahkan sempat ke bangsal jiwa (hamper-hampir saya masuk sini lho gara2 ujian2 teori, klinik dan skripsi kemarin yg bersamaan). Tapi yang dicari tidak kunjung jumpa. Di tengah perburuan, tman saya ZA ini, sebut saja Zamrina Adilafatma lah ya, dia menceritakan buku yang saya baca sekilas langsung bikin saya yang tadinya panic dan resah dengan kabar terkini tetang IPK saya, menjadi tenang seketika. Dunia yang berasa mau runtuh, tiba2 ga jadi, karena tiba2 di kepala muncul, “IPK is not the end of the world”. Ya, kalau Anda punya masalah terkait impian, rizki, jodoh, pertemanan, gejala psikosomatis dan masalah pribadi lainnya, bacalah buku “7 Keajaiban Rizki” karya Ippho “Right” Santosa ini. Pasti sembuh!!! Ingat bahkan penyakit sekalipun, terutama psikosomatis! Ngga Percaya?? Beli dulu, baca bagian yang menarik minat ANda. Kalu menurut Anda buku ini ga menarik, kasih ke saya, saya beli bukunya (asal masi rapi) Anda saya traktir soto ayam paling enak di seantero Jogja Raya, Soto Kadipiro!

Ohya, btw IPK (index prestasi kumulatif) itu penting, tapi ga banget2 lah, ada yang lebih penting IPK juga tapi Index Pendapatan Kumulatif!!! Hahaha.. ga percaya?a Tanya mba2 yang fresh graduate trus langsung nikah, sekarang mana yang mereka lebih pedulikan dari suami.. IPK apa “IPK”??!!

Oke, balik lagi, hingga ketika kami kelelahan di Lobby Gedung Radiopoetro, tiba2 beliau melintas. Saya pun langsung menggerebek beliau, tapi bukannya lari malah, “silakan dik silakan, ada apa?” Wah, dosen begini ni yang oke. Akhirnya saya ceritakan bahwa kami mengharapakan agar nilai ujian mahasiswa peserta blok beliau dapat ditingkatkan lagi. Namun kemudian beliau menyatakan bahwa hal ini tidak mungkin lagi karena tim asusement, eh assessment tidak memungkinkan peningkatan nilai dengan pemberian tugas ulangan maupun make up test segera. Harus menunggu semester depan. Berbagai alasan saya kemukan seperti “kesialan” kami angkatan 2007 mendapatkan perlakuan penilaian yang berbeda dari angkatan2 sebelumny dsb. Tapi beliau tak bergeming. Akhirnya saya keluarka jurus lobi pamungkas, yakni memelas! Saya ceritakan IPK saya yang masih belepotan sementara saya berharap bisa apply scholarship untuk s2 public health di LN akhir tahun ini dsb. Eh tiba2 belaiu malah nanya,

”pengennya cari dimana?”

“Oslo atau Mastricht Dok, yang paling pengen, tapi USA juga gapapa” (cah edhian, ngimpine dhuwur banget)

Air muka beliau berubah, dan saya tahu beliau sedang PhD di Taiwan, dan saya tahu public health di Taiwan sedang berkembang. karena dosen-dosennya serempak kembali dari John Hopkins SPH (school of public health), SPH nomor 1 di dunia. Langsung saya sambung, “kalau Taiwan gimana dok, katanya lagi bagus dan gencar promo?”

Iya, disana SPH nya independent setara denga pendidikan dokter, gizi dan nurse. “Lah IP mu brapa to dhik?”

“2,89 Dok!” tetap berusaha semangat meski kalo orang luar tahunya nilai segina ga panyes di FK UGM, soalnya bandingan mereka angkatan2 sebelumnya yang bisa 60% cum laude, sementara 2,89 bakal Nampak sangat ceumelude (baca: kemelut).

Sungguh di luar dugaan beliau berkata,”aah.. bisa.. dapet beasiswa SPH.., nanti saya kasih informasi dan kalau kesana saya carikan professornya, yang penting kan rekomendasi dari sana dik, soalnya saya kemarin sempat ditawari, tapi ndak saya ambil karena saya kan klinis..gini aja, nanti kamu email saya, cateto emailku, nanti ada info lagi ta’kabari wis, ngono yo..”

Uwaaa…dengan hepi bagai dicium bidadari (kaya pernah aja, eh pernah ding, hihihi..) akhirnya saya mengundurkan diri.

Kami pun menuju ruang kuliah mendengarkan sosialisasi ko-ass yang dibuka oleh dr. T, M.MedEdu, PhD. Ketika presentasi saya mengirim sms beliau tetntang rencana kehadiran rombongan International Deans Course yang dihadiri para Dekan2 di ASEAN, dan alumni DAAD kebetulan acara ini disponsori oleh DAAD. Saya mengajukan diri via sms untuk dapat bersama teman2 mengikuti kegiatan kunjungan tersebut dengan harapan bisa menjalin koneksi dengan para tau dan dekan yang hadir karena siapa tahu kelak bisa membuka peuang beasiswa atau kerjasama. Ini ceritanya saya sedang mempraktekkan ilmu tebla muka, nekat, SKSD yang diturunkan perpaduan ilmu dari kedua orangtua saya. Pokoknya kalo ada event potensial, tlesep-tlesep cari peluang bisa terlibat!! Selalu ciptakan peluang, always create chancea, altijd kansen maken!!

Selepas kuliah saya segera berlalu menuju kantor team FM FK UGM, disana saya telah u oleh Pak T dan Mas D dari GT dan Prof A bersama dr.D. sore itu kami membicarakan pengalihan proyek kerjasama antara “FK” dengan GT dan Nokia terkait content Nokia OVI Life Tools. Mau ga mau harus dialihkan, karena targetnya Maret sudah muncul di Media, tapi sudah 4 bulan ga ada respon adekuat dari “fakultas”. Diskusi berlangsung lancer saya diteman kawan baik yang lain, Angga. Kami pun pulang. Hujan sore hari ditambah lelah yang sangat seharian, akhirnya saya memutuskan hujan2 pulang ke rumah. Tiba di rumah saya terkejut lemas, laptop yang telah saya masukkan tadi (disaksikan Angga) tiba2 raib bak barang padat yang menyublim dari dalam tas saya, hanya tersisa kabelnya. Saya tidak perlu menjelaskan lebih jauh, hal2 “aneh” seperti ini beberapa kali terjadi. Initnya laptop saya hilang, saya kembali ke kampus, telusuri jalan, Tanya orang punt itdak ada yang tahu. Lemas, depresis seketika. Ya, semua bhan dan skripsi terbaru, kontrak dan proposal kerjasama, CV terbaru, aplikasi magang WHO, exchange maheva, surat-surat.. semua ada di dalam.

Dalam keadaan galau segalau2nya saya matikan semua hp, saya kunci mulu rapat2, saya hanya mau berdiam diri. Saya pun meninggalkan HP, mengambil dompet dan kunci motor, dengan pakaian sisa hari ini yang sudah basa melekat, saya hujan-hujan mencari buku yang diceritakan ZA tadi siang. Alhamdulillah di Toga saya nemu buku2nya Mas Ippho ini, banyak dan bagus2, tp karena lg ga banyak duit, kata orang prancis keturunan arab, “j’ai fulus laghie meffete” akhirnya Cuma beli dua. 7 Keajaiban Rezeki dan Percepatan Rizki. Hahaha, tau donk kenapa, biar bisa bisa cepet2 afirmasi alam bawah sadar sehingga cepet2 dapet ganti laptop yang menyublim tadi. Hehehe. Buku pertama menjanjikan perubahan rezeki dalam 99 hari, buku kedua dalam 40 hari.

Sampai di rumah saya baca buku pertama sampai larut malam menjelang. Kalau sampai pagi menjelang, itu ANang sama anaknya lagi nyanyi, “aku dan kamuu..” Baca buku ini kegalauan saya berangsur-angsur berkurang. Ditambah curhat dg sang kekasih di seberang telpon sejauh 500 km, makin membuat hati ini tenang. Hehehe .

Pagi hari selepas tahajud saya menanti subuh dengan melanjutkan membaca si “7 Keajaiban Rezeki” ini hingga tibalah saya pada bagian yang intinya, “untk meraih mimpi, kita harus memantaskan diri bagi mimpi tersebut. Apapun mimpi Anda, sebelum berharap terlalu jauh menjadi nyata, nagca dulu cing udah pantes belom? makanya pantaskan diri kita dulu. Oia, ni buku bahasanya kocak gila. Jadi ga bosen2 bacanya..

Tepat saat adzan subuh berkumandang, 4.15 Waktu Indonesia Baciro,. Baciro ini kelurahan tempat saya tinggal, meski demikian saya lebih senang menyebutnya Belanda, belakang (satdion) Mandala Krida.. huahuahua.. saya tiba pada halaman yang bercerita tentang impian umroh. Disana dikatakan kalau belum bisa umroh secara lahir, pantaskan diri dengan cara menjalani umroh rumahan, yaitu sholat subuh berjamaah di masjid, sampai matahari terbit ditambah sholat dhuha. Darr!! “pas adzan ni, ke mesjid gaya?” pikir saya. “mm..dingin, besok aja deh” (djar2, sampae mau kiamat namanya subuh pasti dingin..). awalnya saya urung ke mesjid. Nah pas adzan selesai, bukunya bilang, halaman 46, “Jangan banyak Tanya!!. Jangan banyak pikir!! Lakukan segera!!!” Duaar…!! Buset dah, berasa dibentak gw.. langsung saya saut sarung dan kunci Paryono (nama vario pink kita) ngeeeengg…ke masjid terdekat. Saat sujud pertama saya mau mewek, ini subuh pertama saya di masjid, sejak subuh terakhir saya di Insan Cendekia. Tiba2 kangen IC boo. Pas baca Quran, makin mau mewek lagi, “Ya Allah, ini ngaji Quran pertama saya sejak ramadhan lalu”. (biasanya paling banter saya dengernya mp3). Mungkin denger hati saya bilang gitu, Allah bilang, “nah, nyadar kan lo, kenapa laptop lo Gw bkin menyublim..??!!” saya berdoa banyak sekali, minta ampun banyak sekali pagi itu. Oiya, sebelum baca Quran saya nemu buku tetnag menulis dari Fauzil Adhim, yang orang Jogja tau peminat menulis pasi tau ya siapa dia. Di dalemnya ada kisah-kisah motivasional dari jony Ariadinata, sastrawan yang awalnya hanya tukang becak, Salim A FZillah, penulis buku best seller yang booming di awal 2003 an, Nikmatnya Pacaran, setelah Pernikaha”. Kemudian juga tentang Habiburrahman El Shirazy, penulis novel best seller Ayat-ayat Cinta. Mungkin tokoh-tokoh ini bukan siapa2 bagi pembaca, tapi kebetulan bagisaya, mereka bertiga pernaha saya temui saat SMA, dan menjadi inspirator saya dalam menulis. Saya nulis blog jua karena ingin jadi penulis, hehehe.

Di perjalanan pulang saya mersakan kesejukan luar biasa, hati dan physically. memori2 indah subuhan di IC, hawa dingin khas subuh di jogja; jadi teringat ketika kami masih SD (kakak) dan balita (saya) turun dari bis (dititipin supir bis Mulyo Indah Bogor-Jogja) dan dijemput mbah kakung di dekat Tugu Jogja. Ah indahnya masa-masa liburan di Jogja kala itu. Entah kenapa saya dapat feeling hari ini bakal banyak rejeki!!

Sampai rumah saya bikin email lamaran dg attachment needed file ke asisten salah satu manager WHO, dibantu ngetik sama kaka saya. Tidak lupa saya ngimel kekasih saya tentatng somehow suasana yang menyenangkan usai subuh di masjid tadi dan positivism saya pagi itu. Harapannya bisa saling menularkan semnagta dan didoakna. Karena semakin banyak yang tahu mimipi dan usaha kita, semkain banyak doa yang terbang ke alngit bersama impian kita. Dan semakin dekat seseorang dengan kita semkain kuat pula mesin jet doanya bekerja. Dan pasti ga lupa BB minta doa mama.

Siangan dikit sampai di kampus saya dapat cobaan nila 4.1 ga keluar, slidik punya slidik ternyata praktikum farmako saya yg sudah puas salah klik sehingga tercantum TIDAK PUAS. Hedeuh.. dari 193 mahasiswa ko ya saya yang apes.. tapi saya coba sabar. Cek punya cek nlai 3.5 yang D, ternyata tetep ga naik meski sudah prosus, tetep D! ya Allah, dunio ambo runtuah suda..

Tiba2 fisik saya merespon pikiran saya, muncullah gejala2 psikosomatis, herartbeat meningkat, ga bisa konsen, jari berkeringat, dan yang menyakitkan, maag kronis saya kambuh sakit banget dengan distensi abdomen yang kuat sekali. Jam 2 pun saya pulang, Cuma pingin ngeteh lalu rebahan.. Tapi sebelum pulang saya dapat email dari dr.R SpKJ, bahwa dia akan stay in touch saya dengan informasi SPH di Taiwan.. Alhamdulillah..

Tiba di rumah, saya teringat si 7 Keajaiban Rizki, tiba2 teringat semua insight motivasi yang intinya saya kan berjuang samapai titik darah penghabisan.

Langsung saya ambil laptop lawas ketik email kepada salah satu professor yang menyelenggarakan remidi. Intinya saya berharap penugasan yang beliau berikan dapat saya capai nilai maksimalnya. Tentu saya sebelumnya perkenalan panjang lebar, menceritakan kondisi, IPK saya yang saat itu miris, 2.96 dan hanya nilai dari remidinya perbahan dari B ke A yang membuat itu bisa berubah jadi 3.00, sampai bisdang yang saya minati, motivasi kuliah, motivasi s2, hingga mimpi magang di WHO dan selengkap2nya u membuat beliau mengerti yang saya rasakan.

Di luar dugaan, hanya sekitar 5 menit, dan ternyata beliau saat itu memang sudah pegang nilai saya dan kawan2 peserta remidi, sebuah email masuk di si putih mungil ini .

Hallo Fadjar.

Remedi anda dapat A. Selamat. Disamping itu kalau mau jadi asisten penelitian di proyek dengan Umeo University bersama saya dan bu S dipersilahkan.

 

Salam

L”

 

Saya copy langsung tanpa perubahan, kecuali pada nama

Huuuuooooooo….!!! Teriak, lalu sujud syukur dan mengabari mama dan kekasih yang saya lakukan langsung saat itu. Subhanallah, Alhamdulillah, saya benar2 merasakan ekspresi indah yang ga bisa saya jelasin lagi, seperti dunia runtuh yang kembali, bahkan lebih Indah. Saya minta 1, nilai A. Allah kasih 2, plus penelitian dengan Umeo. Sementara Umeo ini di Swedia, berdekatan dengan Finland. Meski penelitiannya di Indonesia, saya yakin ini bisa jadi “tiket” suatu hari untuk ke Swedia. Tiba2 mimipi untuk mengunjungi Finland terangkai kembali. Kenapa Finland? Foto-foto bapak tahun 1994, kala menemani pak menteri melkukan kunjungan, di atas tumpukan salju di Finland lah yang membentuk konsep “Harus Bisa ke Luar Negeri Seperti Bapak!” dan akhirnya menjadikan saya seorang Fadjar yang penuh mimpi seperti ini.

Beuh Alhamdulillah ya Allah, meski blackberry yang saya pegang ini cicilan dan baru lunas maret ini (ya Allah, baru inget, ini bulan cicilan terakhir, serius lo, ingetnya ini masi 2010) dan merupakan BB kasta terendah tapi bisa memberi banyak manfaat. Hari ini saya mahasiswa yang IP-nya jongkok, dan langganan remedy bisa berkontak ria dengan kabar2 manis dari dosen akademik, dokter spesialis, hingga professor public health. Eh sumpah demi seluruh CEO produsen hp di dunia, saya tidak dibayar oleh RIM untuk cerita bagian ini. Saya sendiri dulu tergabung dalam Forkomabry (Forum Komunikasi Anti Blackberry).

Tidak hanya sampai disitu, seorang dokter spesialis yang kami kagumi pun sore-sore menelpon saya, “giman mas, sudah baik IP nya?” kebetulan beliau tahu kondisi saya, dan meski hanya telepon, tapi sungguh luar biasa perhatian beliau pada kami bahkan sempet2nya nelpon saya. Padahal “aturannya” spesialis sulit ditelpon, dan “ga mungkin” yang telpon duluan. Selanjutnya saya minta doa beliau, dan juga mendoaan beliau. Terimakasih atas bimbingan akademik dan upaya Bapak memperjuangkan nilai kami yang nyaris dinodai tim asusement, eh assesment.

Malam harinya saya menerima sms dari dr. T, MMedEdu, bahwa dengan senang hati beliau memepersilakan kami mengikuti kunjungan International Deans Conference. Saya pun mengajak teman2 dekat yang minat dengan “urusan keluarnegerian” untuk bergabung. Alhamdulillah, rejeki baru lagi. Kala saya hitung, lunas sudah laptop saya yang hilang. Seolah Allah meng-comment langsung status doa-doa saya subuh tadi berkali lipat.

 

dr. Tuan, Viet Nam Ajaibnya, keesokan harinya ketika menyambut Dekan-dekan di ASEAN, dalam acara yang salah satu panitianya kebetulan kakak saya juga, terdapat seorang dekan yang satu-satunya berasal dari kedokteran. Dia adalah dr. Tuan Trom , dari Ho Chi Minh City. Awalnya kakak saya yang ngenalin dr. Tuan ke saya, lalu kami bertukar kartu nama. Tapi setelah berbincang beberapa saat dengan dr. Tuan, kami berdua tertawa sejadi-jadinya, karna baru terungkap, sebetulnya kami pernah berjumpa 3 bulan lalu juga saat ia studi banding d FK UGM!! Jadi sesungguhnya kami pernah bertemu!! Juga bertemu di Jogja Plaza saat ia menginap di sana dan saya numpang..numpang..nge-gym hehe. Agak berat negtiknya, sama kayak berat badannya. (sorry ya nyela diri sendiri dulu, udah sering dicela ama orang soal bodi soalnya..ga mempan lagi).

Malam hari (Rabu) saya bisa tidur dengan nyenyak dan menutup mata dengan, “Ya Allah, sungguh tak terkira nikmatnikmat yang kauberikan”. Tapi denger doa saya ini sepertinya Dia belum mau berhenti menurunkan nikmatNya pada saya, tengah malam tiba2 si putih mungil bergetar membangunkan saya dan ketika saya buka muncul di layar..

Dear  Fadjar,

Thank you for your message and interest in internships at WHO. I suggest we set up a conference call to discuss internship opportunities. Please kindly let me know your availability next week and we can set up a teleconference.

I look forward to our discussion.

Best regards,

Allahu Akbar!!!!! A step making my dream come true.. doakan ya semuanya semoga lancer teleconference nya dan berkenan meminang saya jadi intern disana.. J

Kamis pagi kala menanti acara International Deans Course, akhirnya IPK saya muncul dengan nilai 3.01.. subhanallah, bagi pembaca mungkin ini kecil, bagi saya walau ga gede, tapi manis.. ada koma 01 nya, seolah Allah menunjukkan. “Tuh, doa lu Gw kabulin, di atas 3 kan??” hehehe.

Mungkin pembaca masih ada yang ingat denga posting saya terbaru sebelum ini, kalau sudah akan nyambung dengan yang berikut ini. Hmm.. belum habis juga nikmat dari Nya. Selang beberapa menit si putih mungil geter lagi isinya dari Mba Michelle Ayu Chintya Kristy..

Dear all,

Pagi ini saya sudah menemui Kepala Humas UGM dan beliau mengatakan puas dengan hasil tulisan kita :-)
Buku kita akan dicetak sejumlah 17.000 buku untuk diberikan kepada seluruh Mahasiswa Angkatan 2011.

 

AllahuAkbar!!! Impian saya menjadi penulis “terkabul”!!! hanya karena solat subuh di masjid!! Voila!!!

Saya pun dengan bercanda membalas email Michelle..

“Selamat yaa..
Langsung best seller, tembus 10.000 dalam sehari!!! Hehehehe..

Mengalahkan rekor yg dipegang oleh buku Marketing Revolution nya Tung Desem Waringin dan Harry Potter di Indonesia!!”

Ya sampai saat ini buku best seller di Indonesia tercepat diraih oleh Pak Tung kemudian disusul JK Rowling.

Demikianlah, hadirin sidang pembaca sekalian, inilah curahan apa yang saya alami dua hari ini, semoga ada yang bermanfaat meski pasti ada khilaf, ada yang menghibur meski yakin 100% ada yang jayus, ada yang mengsinpirasi tapi mungkin ada yang njelehi. Apapun itu, saya serahkan kepada pembaca, saya hanya  mendoakan semoga tidak ada yang pembaca dapat kecuali sebesar2nya manfaat .

Oia, sekarang ni lagi jaman-jamanya orang banyak membagi pengalaman lewat blog maupun status. Jadi kalau ada orang cerita tentang pengalaman baik, keberhasilan, dan sejenisnya, jangan main stempel dia sombong dulu ya.. tapi anggaplah sebuah ekspresi manusiawi dari sebuah kesenangan (bahkan mungkin rasa syukur karena ingin berbagi kebahagiaan) atau sesungguhnya dia sedang minta didoakan. Cuma mau ngomong, “eh tolong doain gw gini gini ya..” tapi lidahnya ga nyampe. Kalaupun dia berniat sombong kita bisa pikir, “anjrit..blagu amat lu, gw jg bisa kali..!” hahaha. nah pokoknya cari cara agar efeknya tetep positif buat kita. Bukannya malah nyumpah2 trus jelek2in ke orang lain. Rugi gila, orang lain yang berhasil, kite yang nelen dosa ghibah .

Berkait dengan pengalaman subuh di atas. Saya yakin ini baru sepersekian rizki saya yang Allah turunkan, seolah Ia bermaksud menunjukkan,”tuh, lo subuhan di mesjid aja Gw kasi sebanyak itu rejeki lo, makanya yang rajin!”. Ya, inshaAllah mulai saat ini saya ingin menertibkan diri untuk subuhan di masjid. Ibarat fesbukan, tadi pagi baru pasang status doa, siang malem langsung di comment sama Allah. Mungkin kalo makin rajin subuhan ke mesjid, ibarat makin sering wall-wall doa dari hati gitu. Ntar makin lama, makin sering dapet notifikasi rezeki dari Dia.. hehehe..

Pokoknya kalo temen-temen ga suka kata-kata saya di atas, gapapa.. tapi niget saja yang beriku t ini.. (koq maksa Djar?? hehehe) yang diambil dari status2 fb saya..

DOA, dlm bahasa arab (addu'a) artinya meminta. Sementara dlm "bahasa akronim"/kirata basa (karangan sy) D.O.A berarti "Dikabulkan Oleh Allah"..
See??!!! As simple as the way it is..
*"ud'uunii astajiblakum = mintalah padaKu, maka kan Kuberi = nyuwuno marang Aku, nyoh Ta'kei"
Rejeki datang dari MANA saja.. Nah, makin banyak KEMANA-MANA makin banyak rejekinya..!!!
*makanya sy suka jalan2..hahahha cah edhian!!
..terlalu sering manusia mengklaim keterbatasan yang dimilikinya..kita lupa kalo sejak bisa mikir dan bicara kita punya senjata anti-keterbatasan yang tiada duanya.. D.O.A!!!
*kesambet opo kowe dJar..

Intinya.. orang atheis yang ga percaya Tuhan saja bisa sukses, karena mereka percaya L.O.A = law of attraction, apalagi kita yang mengimani Tuhan.. kita punya D.O.A yang artinya Dikabulkan Oleh Allah . dan kita juga boleh percaya dengan LOA. dobel donk senjata kita untuk hidup di dunia..!!!

Ingat kata sebuah lagu motivasi.. "There will be miracle.. when you believe..!!!"

Believe! PERCAYA!!! Percaya pada alam semesta, yakin pada Tuhan, dan percaya diri!! (kalo sama diri sendiri ga percaya, gimana orang lain mau percaya ama kita.. wkwkwk yang ngga2 aja.. hehehe)

Oia, bukan maksud apa-apa kalau saya menceritakan beberapa hal pribadi termasuk impian saya disini, hanya mengikuti ajaran guru motivasi saya, Pak Tung (Desem Waringin), salah satu cara mencapai tujuan baik Anda adalah dengan menDEKLARASI kannya pada orang. Dengan begitu Anda akan terikat, dan berusaha semaksimal mungkin mewujudkannya. Itu kata Pak Tung, Kalo kata saya, syukur ada yang mendoakannya, mendukungnya, mungkin malah mengikuti atau mengajak bersama-sama.. Amin

Wallahu a’lam. Hanya Dia Yang Maha Tahu segalanya.

NB : Tulisan ini nampak berwarna-warni tak lepas dari

1. Zulrahman Erlangga , mahasiswa paling berprestasi di FK UGM 2007. Berdiskusi dengannyalah hingga pukul 2.30 di Dunkin tentang blog yang paling mewarnai tekad saya untuk bisa konsisten dalam penulisan blog ini. Dia yang memicu keedanan saya mengunjungi eropa 3 kali dalam empat bulan. Dia yang selalu menjadi rekan diskusi karir dan masa depan dunia kesehatan.

2. Michellle Ayu CK, senior seligus kakak sekaligus sahabat kami. Dialah MAPRES (Mahasiswa Berprestasi) UGM dan Nasional. Mahasiswi FH UGM, returnee AFS Belgie yang mengukir berbagai prestasi tingkat internasional dan peneliti kebijakan WTO (wuih ngeri lah, ga nyampe otak saya ini). Dialah yang mengajak penulis berkontribusi dalam buku yang dia koordinir penulisannya .

3. Mutiara Indriani, kekasih hati penulis yang selalu menenangkan dan menyenangkan hati penulis di berbagai keadaan :D Yang rela nelpon di waktu2 spontan kala dibutuhkan, menghibur, seolah tahu tanpa saya sampaikan, bahkan sampe ditegur bos nya, Pak Deputi Secretary General ASEAN. Sabar yaa, jarak melatih kita menghargai kebersamaan..

 

]]>
http://wm290764.dbswebmatic.com/rss-comments/
Pertemuan Ketiga dengan Bapak Rektor http://wm290764.dbswebmatic.com/?pg=articles&article=14075 http://wm290764.dbswebmatic.com/?pg=articles&article=14075 Wed, 2 Mar 2011 18:06:33 +0700 Mutiara & Fadjar Doctorpreneur http://wm290764.dbswebmatic.com/?pg=articles&article=14075  

 Ya, dalam setiap kalimat yang beliau sampaikan, selau ada nilai-nilai kehidupan yang bisa saya catat. Namun karena kecepatan mencatat saya yang terbatas, hany sedikit berikut ini yang bisa saya bagi. Karena keterbetasan saya pula, kalimat2 langsung di bawah ini sebagiannya mengalami paraphrase (diusahakan seminimal mungkin).

(artikel ini ditulis di sembari saya menunggu kelas les bahasa prancis yang akan mulai dalam 30 menit lagi, sehingga saya tidak sempat membuat telaah mendalam untuk tulisan ini, silakan pembaca bebas menafsirkannya).

Berikut ini beberapa kutipan dari pernyataan Bapak Rektor dalam perjumpaan kami sore tadi.

“Ingat naskah asli teks proklamasi? Penuh coret-coretan dan hanya tulisan tangan bukan? Seolah orang dapat mempertanyakan, ini niat tidak mau meredeka? Sama sekali tidak perfect. Tapi buktinya kita kini Merdeka”.

-bagi saya, ini membuat saya yakin untuk tidak takut akan apapun terutama dalam merealisasikan ide dan mengejar mimipi!-

“Kalau para dosen itu mengerjakan segala hal sendiri, pasti nggak aka nada program yang berhasil. Mahasiswa harus dilibatkan”

-dalam keseharian, proyek, seminar, penelitian, kontribusi mahasiswa sangat berperan dan mahasiswa dapat memperoleh banyak manfaat darinya (ilmu, koneksi, networking, hingga tawaran beasiswa)-

“Setelah dirumuskan, dalam seminggu ada 168 jam dalam hidup mahasiswa, 49 jam untuk tidur, 50 jam untuk perkuliahan, dan masih ada 69 jam untuk melakukan aktivitas kreatif”

-mahasiswa Indonesia punya begitu banyak peluang mendayagunakan dirinya untuk berkontribusi pada bangsa melalui aktivitas organisasi, penelitian, proyek, bisnis, voluntary, etc-

“memilii ide itu mudah, merealisasikannya itu tidak mudah, dan menjaga sustinabilitasnya itu sulit”, disampaikan ulang oleh Sdri. Michelle sore ini.

-untuk meraih mimpi, kesuksesan,target, atau apapun Anda menyebutnya, ketiga langkah di atas saya anggap perlu dilalui semuanya-

“orang yang mencoba itu tidak pernah gagal, kalau tidak berhasil pun setidaknya dia telah mencoba dan mendapat pelajaran darinya, kita sebut 50% berhasil. Yang gagagl adalah yang tidak pernah mencoba, itu 0% berhasil”

-saya sudah berkali-kali membuktikan, sekali mencoba, Tuhan akan menunjukkan jalan berikutnya-

“sukses adalah bisa menggerakkan orang untuk bergerak bersama menuju keberhasilan”

-perubahan kecil dalah sebuah komunitas lebih berarti daripada pencapaian besar untuk diri sendiri, sering para mahasiswa, dokter, dan profesi lain melupakan ini-

 

*hahaii..12 menit lagi masuk kelas prancis, dan belum solat magrib.. semoga bermanfaat ya sahabat readers..

 

]]>
http://wm290764.dbswebmatic.com/rss-comments/
Relawan Bencana, Tidak Cukup Sekedar Rela http://wm290764.dbswebmatic.com/?pg=articles&article=14014 http://wm290764.dbswebmatic.com/?pg=articles&article=14014 Sat, 19 Feb 2011 13:25:00 +0700 Mutiara & Fadjar Indonesiaku Sehat http://wm290764.dbswebmatic.com/?pg=articles&article=14014

Kita tentu masih ingat kejadian bencana erupsi merapi di penghujung 2010 lalu. Bencana yang menyebabkan timbulnya banyak kerban ini merupakan salah satu bencana terburuk dalam tahun 2010, salah satunya karena cakupan kawasan terdampak yang luas. Bahkan penyebaran  vulkanik mencapai jarak hingga 40 km dari pusat erupsi. Meski jumlah korban jiwa tidak sebanyak seperti pada kejadian 10 tahun lalu, namun luasnya kawasan terdampak membuat  jumlah pengungsi kali ini jauh lebih besar yang mengakibatkan timbulnya berbagai problema terkait masalah pengungsian.

Hal ini direspon oleh berbagai pihak baik pemerintah, swasta maupun individu dengan berlomba-lomba menunjukkan empatinya dengan cara mendirikan posko atau terlibat dalam penyaluran bantuan di posko-posko yang sudah ada. Keterlibatan berbagai pihak ini tentu memiliki berbagai macam motivasi dan alasan. Disinilah menurut penulis masalah baru muncul.

Penyaluran bantuan tentu membutuhkan tenaga SDM yang bersedia melakukan kegiatan teknis di lapangan maupun di balik layar. Individu-individu yang disebut relawan inilah yang kemudian aktif menjadi ujung tombak organisasi yang mereka wakili dalam memberikan bantuan di lapangan. Perlu diketahui sebelumnya bahwa ada empat faktor utama yang perlu dipenuhi seorang relawan untuk menjadi relawan yang sesungguhnya keempatnya adalah:

Willingness

Keinginan kuat menjadi relawan menjadi landasan utama seseorang untuk menjadi relawan. Tanpa kesadaran diri, apalagi hanya karena ajakan atau paksaan. Keinginan menjadi relawan dapat muncul dari kesadaran moral dan harus melepaskan segala bentuk alasan financial.

Professionalism Medic / non medic

Seorang relawan harus memiliki kemampuan yang dibutuhkan di lapangan. Baik teknis maupun non-teknis, leadership misalnya. Tanpa kemampuan yang sesai keberadaan seorang relawan hanya akan menjadi beban bagi anggot tim penolong bahkan bagi para korban.

Good motivation

Motivasi yang lurus merupakan modal berharga dalam menjadi seoranga relawan. Seorang relawan harus terbebas dari kepentingan organisasi, politik dan uang. Ketika berbagai kepentingan sudah melekat, perlakuan dan pertolongan yang diberikan tidak akan lagi optimal kepada para korban, karena ia akan melakukan apa yang dianggapnya menguntungkan bagi kepentingannya bukan yang baik bagi para korban.

  Capability  to  cooperate with other people.

“ Accomplish more together than alone “ ( Peter Safar ). Sebagai relawan, kerjasama merupakan hal yang sangat penting seorang relawan tidak akan mampu bekerja sendiri di lapngan. Beban kerja menghadapi situasi bencan bagi sesorang, kelompok bahkan negara seklaipun adalah beban kerja yang sangat berat. Kolaborasi dan jarningan dengan berbagai pihak sangat dibutuhkan.

 

Sumber: kuliah block 4.2 angkatan 2007 FK UGM

]]>
http://wm290764.dbswebmatic.com/rss-comments/
Merapi Bencana dan Anugerah: Master of the Disaster http://wm290764.dbswebmatic.com/?pg=articles&article=14013 http://wm290764.dbswebmatic.com/?pg=articles&article=14013 Sat, 19 Feb 2011 13:22:15 +0700 Mutiara & Fadjar Indonesiaku Sehat http://wm290764.dbswebmatic.com/?pg=articles&article=14013

Merapi adalah gunung vulkanik teraktiv di dunia. Merapi dalam siklus 10 tahunannya hingaa saat ini dan baru saja mengalami erupsi. Setiap erupsi yang terjadi dari satu siklus ke siklus yang lain tidak hentinya memakan korban. Meski banyak yang menyalahkan, namun jatuhnya korban bukanlah murni kesalahan pemerintah semata. Keyakinan penduduk akan tanah kelahiran membuat mereka memilih untuk tetap bertahan hingga erupsi terjadi. Seperti fenomena Mbah Maridjan. Tetapi bukan hal ini yang ingin penulis bahas kali ini. Sebagai warga Jogja berdarah Jawa tulen, yang memiliki bakat “simbolistik” penulis ingin sedikit mengungkap “kearifan local” Merapi yang dapat merubah .

Tulisan ini terinspirasi oleh pernyataan Rektor UGM Prof. Sudjarwadi ketika penulis bersama 9 mahasiswa penulis buku “Kisah Inspiratif Mahasiswa UGM” lain berdiskusi dengan beliau di ruangannya pada suatu kesempatan. Di sana beliau mengungkapkan telah lahir sebuah wacana untuk menjadikan kota Yogyakarta sebagai salah satu kota pusat Budaya dan Pendidikan di dunia. Yang menarik adalah Merapi menjadi salah satu ikonnya.

Merapi sebagai salah satu gunung tertua dan merupakan teraktif di dunia dapat dijadikan simbol sebagai pelopor. Merapi dengan segala potensinya dapat dijadikan sebagai salah satu titik tolak pengembangan Yogyakarta sebagi kota budaya dan pendidikan dunia. Sejarah dan aktivitas terkini merapi dapat dijadikan subyek beraneke ragam penelitian.

Mulai dari penelitian keanekaragaman hayati, pengembangan produk pangan, antropologi dan sosiologi, kesehatan masyarakat, ekonomi mikro, teknik geologi, geodesi dan sebagainya. Penelitian-penelitian tersebut dapat dilaksanakan secara partial maupun komprehensif.

Judul tulisan penulis di atas, dari bencana menjadi anugerah penulis kaitkan dengan pengalaman panjang merapi dengan berbagai aktivitas vulkanik yang terjadi. Sebagai kumpulan populasi yang sudah seringkali mengalamai pengalaman berulang yang relative sama, sebagai institusi akademik sudah sepatutnya UGM memiliki berbagai referensi dalam penelitian terkait vulkanologi.

Selain institusi akademik, UGM, Jogja memiliki berbagai organisasi yang terlibat aktif menangani gempa. Mulai dari Satkorlak, Badan Penanggulangan Bencana, Palang Merah Indonesia, dan berbagai LSM yang aktif menangani penanggulangan bencana. Fakta ini menunjukkan bahwa   sesungguhnya kota Jogja memiliki potensi yang besar dalam menghadapi bencana, terutama sejenis bencana vulkanik, maupun gempa tektonik, mengingat kemunculannya yang sudah terjadi belakangan ini.

Potensi ini dapat diasah oleh pemerintah daerah dengan cara mendirikan Akademi penanggulangan bencana. Mengingat banyaknya stakeholder yang dapat bersinergi mewujudkan potesi ini, penulis berpendapat ide ini merupakan suatu gagasan yang dapat diwujudkan.

Sebagai factor penguat, kita dapat bercermin dari negara Jepang yang sukses belajar dari pengalaman bencana nya, gempa, sehingga mampu mengedukasi seluruh warganya dalam menghadapi gempa sehingga dapat meminimalisasi jumlah korban.

Akademi Penanggulangan Bencana, ditujukan untuk mendidik para ahli dan praktisi dari berbagai bidang ilmu untuk dapat menyusun strategi penanggulangan bencana di seluruh Indonesia dengan erupsi vulkanik dan gempa tektonik sebagai pelopor idenya karena ini merupakan yang paling banyak dialami di Indonesia.

Penyelenggaraan badan pendidikan ini dapat menjalin kerja sama dengan institusi internasional yang memiliki kapasitas dalam memberikan pendidikan dan materi pelatihan. Ide ini mungkin terdengar tidak populis, tapi penulis yakin apa yang penulis ajukan merupakan ide yang aplikatif dan dapat diwujudkan. Kelak Jogaj sebagai kota pendidikan akan menjadi salah satu pusat informasi dan studi tentag bencana alam oleh berbagai negara di duia. Dan meningkatkan added value dari daerah Yogyakarta sendiri. Inilah yang penulis sebut dengan mengubah bencana menjadi anugrah dengan menguasai ilmu penanggulangan bencana.

 

Sumber: kuliah block 4.2 angkatan 2007 FK UGM

]]>
http://wm290764.dbswebmatic.com/rss-comments/