Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?

Our Wedding
image

Mutiara & Fadjar


With all of families, relatives and friend prayers and blessings may God also put blessing on both of them to pursue their dream together and live happily ever after..
Kategori Artikel
Artikel Terbaru
Komentar Terbaru
Arsip

BISNIS FRANCHISE PULSA TERDAHSYAT

AYO Berkebun EMAS!!!
Chat with Me?!
Visitor Flags
Contact

Phone:

+62 857 4342 4433 

e-mail & Facebook:

fadjar.wibowo@yahoo.com

mailing address:

Jl. Menur 12 Baciro Yogyakarta 55225, Indonesia

Visitor

Location of Visitors

Tribute to My Dearest Father, Mochammad Muslich Sophie

image

Tribute to My Dearest Father, Mochammad Muslich Sophie

Tanggal 4 Februari 2010 yang lalu, bersama teman-teman mitra DBS saya melakukan perjalanan darat dengan mobil Kijang Grand ’95 ke Madura dan Surabaya. Ada Mas Melvin, Mas Tomi, Mas Muhib, dan Mas Ratib. Hari kamis Malam kami berangat dari yogya pukul 21.30. sempat berhenti di rumah makan DUTA daerah Nganjuk pukul 23.30.. setelah mengemudi kejar-kejaran dengan EKA , MIRA, dan Sumber K(B)encono Si Setan Jalanan dan “ngeloss”(nyetir di luar kesadaran krn ngantuk luar biasa) sebanyak 2 x saya pun menyerah dengan kantuk pada pukul 1.30 menjelang Mojokerto. Kemudi dilanjutkan oleh Mas Melvin, luar biasa kantuknya saat itu karena paginya saya kuliah dari jam 7 pagi  sampai jam 5 sore.

Ini adalah pngalaman kedua saya mengemudi jarak jauh, sebelumnya Jakarta Jogja, itupun tandem dengan Kang Supri dan saya hanya sampai Tegal, tapi dengan rekor 4jam 30 menit… hihihi…

Saat adzan subuh, Jumat, kami sudah tiba di Surabaya, Mas Melvin turun di Kota ini, salah satu tempat tinggalnya. Saya dan yang lain melanjutkan perjalanan menyeberangi Suramadu menuju Sampang, dengan kemudi kembali pada saya. Sehari semalam saya berada di Madura untuk presentasi DBS, membuka peluang untuk perkembangan bisnis.

Sabtu pagi, untuk memenuhi janji dengan Mas Melvin, saya menuju Surabaya.tiba di Surabaya pukul 7.00, karena kantuk yang masih tersisa saya pun numpang merem sekitar 2 jam. Pukul 9 kami bersiap-siap. ketika Mas Melvin sudah siap, tiba-tiba saya teringat belum sholat Dhuha. Kebetulan hari Rabu sebelumnya, saya baru saja “dimentori” Mas Fauzan tentang fadilah shala Dhuha. Intinya, pada minggu tersebut saya kembali tersadar betapa pentingnya mengamalkan shalat Dhuha dan sunggu telah lama saya sangat kendur dalam menjalankannya.

“Mas ta’shalat dhuha dulu ya, bentar. Biar hari ini rejekinya lancer, ajarane bapakku” kata saya.

“Oiyo Pak!” jawab Mas Melvin. “nCen iku formulane”.

Selang beberapa saat kemudian..

“Ayo berangkat Mas!” ajakku cepat

“Kok wis rampung Pak? Cepet banget?!, sahut Mas Melvin.

“Iya, Cuma dua rakaat”, jawab saya enteng

“Gak isa luwih ta,” sahutnya.

“Isa sih, neng kesusu,” jawab  saya cepat saja.

Di perjalanan kami berbincang dengan tema-tema spiritualitas, mulai dari agama, shalat dhuha, kekuatan doa, keampuhan sinyal-sinyal positif, the law of attraction, dsb. Kami kemudian menjemput Mba Neni , yang sekarang akrab kusapa Mami, hihihi. MbNeni ini adalah junior Mas Melvin di Organisasi SSEAYP.  Tinggal di Sidoarjo. Ketika Mba Neni masuk, kami berdua masih hangat melanjutkan perbincangan dengan tema-tema spiritualitas, Mas Melvin ini memang luar biasa pemikirannya. Walau kami berbeda keyakinan, namun pandangannya yang universal mampu memberikan simpul-simpul bahwa selama manusia itu meyakini Tuhan sesungguhnya kita memiliki tujuan yang sama. Di tengah perbincangan kami Mba Neni pun menyahut,

“ngom0ngin apa sih?”

Saya pun menjelaskan sedikit tentang apa yang sedang dibicarakan.

“a..iya ta..” (khas dialek suroboyonan, “iya ta..”)

“aku juga tadi dhuha, padahal belum rutin tadinya, tapi sambil nunggu kalian, sekalian lah pikirku,” kata Mba Neni.

Waw, menarik, pikirku dalam hati. Suatu kebetulan sekali. Sama-sama sdg tidak rutin dhuha, tapi hari itu sama2 dhuha di tempat yang berbeda. Oiya, sebelum pertemuan ini, saya belum mengenal Mba Neni kecuali melalui cerita Mas Dimas di Jogja.

Sepanjang perjalanan kami bertiga melanjutkan perbincangan, bahkan meluas hingga motivasi dan keyakinan positif. Maklum, hari itu memang kami perlu memupuk keyakinan karena kami bertiga dalam rangka mengunjungi calon-calon klien DBS. Yang kami kunjungi pertama adalah Bu Hamzah.

Beliau adalah seorang pengusaha batik tulis Madura kenamaan yang berdomisili di Surabaya. Berawal dari kecintaan suaminya yang menjalankan tradisi batik keluarga turun temurun, akhirnya Bu Hamzah menjalankan bisnis batik tulis asli Madura ini dan meraih kesuksesan luar biasa. Bahkan hari itu saya sempat mengelus-ngelus kain batik tulis pesanan Bu Any Yudhoyono dan Bu Mufida Jusuf Kalla yang masing-masing senile 12,5 juta dan 30 juta. WoW!!! Hanya selembar kain batik. Lama berbincang saya pun menanyakan rahasia sukses beliau.

“Shalat Dhuha mas, saya sudah rutin 12 rakaat sekarang, insyaAllah rejeki datang sendiri mas” jawab beliau lugas. Kebetulan ketika kami datang beliau dalam keadaan bermukena.  WoW!!! Ini saya anggap sinyal positif, hari ini sduah ada 2 sosok berlainan yang mengamalkan shalat Dhuha dan menjadi bahan renungan kami. Seharian kami tak putus-putusnya berbincang tentang hal spiritual.

Saya pun teringat apa yang dikatakan Mas Fauzan tentang keutamaan Shalat Dhuha dengan mengutip hadits:

"Barangsiapa mengerjakan shalat Dhuha dua rakaat, maka dia tidak ditetapkan termasuk orang-orang yang lengah. Barangsiapa shalat empat rakaat, maka dia tetapkan termasuk orang-orang yang ahli ibadah. Barangsiapa mengerjakan enam rakaat maka akan diberikan kecukupan pada hari itu. Barangsiapa mengerjakan delapan rakaat, maka Allah menetapkannya termasuk orang-orang yang tunduk dan patuh. Dan barangsiapa mengerjakan shalat dua belas rakaat, maka Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di Surga. Dan tidaklah satu hari dan tidak juga satu malam, melainkan Allah memiliki karunia yang danugerahkan kepada hamba-hamba-Nya sebagai sedekah. Dan tidaklah Allah memberikan karunia kepada seseorang yang lebih baik daripada mengilhaminya untuk selalu ingat kepada-Nya" Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani.[17]

Pada hari itu, beliau men-suggest saya untuk tidak pikir2 menjalankan 12 rakaat shalat dhuha

Sore hari kami melanjutkan perjalanan ke Mal Galaxy Surabaya. Namun sebelum tiba di tujuan, dari spion tengah saya melihat ada sebuah Ambulnace yang menurut saya agak “lain”, dengan merk Hyundai yang berusaha mendahului mobil-mobil di depannya dengan membunyikan sirine. Lumrahnya ambulance itu akan berjalan cepat tapi anehnya ia menyalip 2-3 mobil saya dengan perlahan. Ketika saya belok ke tikungan, ambulance ini seolah mengikuti saya. Dan ketika tepat di belakang saya dan saya menepi perlahan, ambulance ini tidak kunjung mendahului kijang saya. Sampai saya membuka jendela, dan meng-awe-awe supaya dia mendahului.

“Nyapo e Jar?” Tanya Mba Neni tentang tanganku yang awe-awe.

“Iku lho mba, ambulance nggo sirine koq ra niat nyalip,” jawab saya.

Memang aneh ambulance ini pikir saya saat itu, deru mesinnya kencang, tapi kecepatannya lambat pol hingga akhirnya ia “berhasil” menyalip saya dan  ketika saya lihat platnya AE. Wah, jauh2 amat ambulance Madiun sampe Surabaya, ngapain pikr saya. Ketika saya mengangkat pandangan saya, tertulis disana

“RS SANTA CLARA”, sejenak terhenti nafas saya dan sebutir air mata menetes di pipi saya… (sama seperti ketika saya menulis ini)

Saya pun mencoba menghapus pikiran-pikiran yang menggalaukan dan kembali berkonsentrasi menyupir dan tiba di Galaxy Mal.

Alhamdulillah, semua orang yang kami undang tidak ada yang hadir kecuali Mas Diri Prasodjo , sosok yang luar biasa bagi saya. Beliau bar dihubungi oleh Mba Neni beberapa saat sebelum kami tiba di Mal, tapi beliau hadir. Sementara yang diundang hari-hari sebelumnya justru tidak dapat hadir. Sejak kedatangan beliau, saya sudah merasakan aura positif dalam diri beliau, dari sorot matanya, bentuk senyumnya, caranya mengangguk dan sebagainya. Setelah berbincang-bincang sedikit, saya pun mempresentasikan DBS dengan sambutan positif dari Mas Diri, dan beliau menimpali akhir presentasi saya dengan, “Menarik Mas, saya Pasti Join, mungkin ini salah satu jawaban dhuha saya tadi pagi”.

Subhanallah saya kembali terkejut, kembali sinyal positif saya terima. Ada apa ini, berkali-kali dalam sehari saya dipertemukan dengan orang-orang yang menjalankan dan berpikiran amat positif dan sugestif pada shalat dhuha. Mas Diri pun bercerita tentang banyaknya klien yang menawrkan beliau peluang bisnis network marketing, namun tidak ada yang “nyantol” di hati beliau, karena kebanyakan network marketing terutama yang berbasis MLM hanya menguntungkan yang di atas dan sulit ditiru oleh pengikutnya. Sementar DBS ini logis dan adil pembagian hasilnya bai semua member. Beliau juga bercerita tentang kemudahan transaksi jual beli tanah yang beliau dapatkan usai menunaikan shalat dhuha. Saya betul-betul tertegun, haru, senang, sedih, bercampur aduk… mendengar cerita beliau. Malam itu pun malah berlanjut dengan pembicaraan spiritual yang lebih dominan ketimbang bisnis. Malam yang sungguh manis, di satu sisi kerjasama terjadi, silaturahmi terjalin, dan kebutuhan spiritual terisi.

Oia, mungkin pembaca bertanya-tanya kenapa saya cengeng sekali dalam cerita ini, jawabannya ada di bagian akhir kisah nyata ini.

Keesokan harinya bersama rombongan selain Mas Melvin, saya pun pulang ke Jogja pada pukul 14.30.  sebelum berangkat saya update status FACEBOOK dengan menulis kota-kota yang akan saya lalui: Surabaya, Mojokerto, Jombang, Nganjuk, Caruban, Ngawi, Sragen, Solo, Klaten, Jogja. (semua kota bahkan yang kecil seperti Caruban dan Klaten saya ketik). Keluar dari Surabaya , saya salah mengambil tol Gresik , padahal seharusnya Malang . Alhasil saya nyasar sekitar 25km dan buang-buang bensin sia-sia. Sebelum lepas dari kota pahlawan, indicator aki saya menyala. Namun tidak saya hiraukan, karena saya tidak terlalu paham kondisi kijang ini dan karena fungsi2 elektrik seperti AC, lampu, weeper masih sangat baik. Saya hanya berpikir bagaimana segera tiba di jogja sebelum jam 9 malam, karena esoknya saya harus kuliah. Pukul 16.00 saya benar-benar ngebut di mojokerto dan jombang, bahkan berkali-kali berhasil menembus kecepatan 130 km/jam, di jalur antar kota dan membalap banyak EKA dan Mira.

Sungguh di luar dugaan, melintas di hutan Nganjuk sekitar pukul 17.00 saya mulai kehilangan funsgis elktrik, dimana ketika lampu menyala, weeper akan mati dan sebaliknya. Sementara AC tidak dapat lagi diandalkan, padahal saat itu hujan deras di tengah hutan kondisi merayap. Dimana harus main kopling, rem tangan, gigi rendah, dll. Menjelang kabupaten Madiun tarikan mobil terasa janggal, lampu sangat redup seolah-olah mobil tidak bertenaga. Walau mulai was-was, saya tetap memacu Kijang ini karena di pikiran saya hanya segera sampai di Jogja.

Selepas Kabupaten Madiun, memasuki Kota Madiun, di tengah-tengah jalan MT Haryono, pukul 18.10 tiba-tiba kijang saya tersengal dan mogok, tanpa mau dihidupkan lagi sama sekali..

Saya benar-benar tidak bisa menggambarkan perasaan saya saat itu… saya pun menangis.. bukan, bukan karena mobil mogok, tapi kenapa harus Madiun..

Malam itu saya berkeliling kota dengan taksi, ke terminal mencari teknisi bus malam, ke rumah pemilik bengkel di ujung timur dan barat kota, namun semua jawaban sama: bengkel tutup, montir libur weekend, hujan, toko dynamo tutup. Yang terjadi adalah dinamo saya angus sehingga aki tidak “mengisi ulang” dirinya. Semua montir dan pemilik bengkel bilang seperti itu..

Malam itu sayapun harus bermalam di Madiun, dan merelakan absen kuliah keesokan harinya. Masuk hotel, pukul 10, keliling madiun 4 jam, ujan-ujan, usai bawa kendaraan selama 4 hari (Jogja-sby-madura-sby) dan presentasi sana-sini ,saya pun benar-benar ambruk (physically&mentally) dengan perasaan campur aduk malam itu.

Kenapa harus Madiun… dan masih ingatkah Ambulance “aneh” tadi dan “fenomena” shalat dhuha..??? Apa hubungannya..??

1.       Ayah saya (saya sebut dengan Bapak) lah yang mengajari saya shalat dhuha sejak TK 0 kecil, dan membuat saya hafal doanya saat saya TK 0 Besar (cukup ppanjang bagi anak TK, dan beliau mengajari saya tanpa tulisan). Setiap hari sepulang kantor beliau selalu bertanya, “tadi pagi dhuha gak Gus (bagus)..?”

2.       Ambulance itu, milik RS SANTA CLARA, sebuah rumah sakit dengan ruang UGD dimana Bapak menghembuskan nafasnya yang terakhir 5,5 tahun yang lalu.. dan berkata sebelumnya, “ini kontak istri dan anak saya”. Ketika itu mama sdg tuga di Palangkaraya, kakak di Jogja, dan saya di Serpong, MAN Insan Cendekia . Yang membuat saya tidak habis pikir, koq sempet2nya saya bertemu ambulance aneh ini di Surabaya. Seolah2 ia ingin member sinyal pada saya..

3.       Lokasi mobil saya mogok, jl. MT Haryono, tidak lah jauh dari lokasi Hotel Bapak menginap terakhir, HOTEL MERDEKA dan RS SANTA CLARA.

4.       Sudah 5,5 tahun ini saya dan kakak saya merencanakan untuk mengunjungi Madiun, sekedar tahu kondisi yang Bapak kami hadapi saat itu. Kebetulan dalam setahun beliau beberapa kali ke kota ini dengan bus langganannya Lorena dan Pahala Kencana. Namun kami belum pernah sekalipun. Di kampus pun saya memiliki seorang sahabat yang sangat baik hati, Bayu Wijanarko, asal Madiun, saya berkali-kali mengatakan kepadanya bahwa saya akan ke Madiun dan minta tolong diantarkan kesana. Tapi itupun tidak kunjung terlaksana karena saya belum sempat dan di lain sisi tidak kuat

5.       Mungkin ini yang disebut firasat atau hanya kebetulan, di status Facebook, saya menyantumkan kota kecil seperti Klaten dan Caruban tapi saya tidak mencantumkan MADIUN.. wallahu alam..


Keesokan harinya saya mengunjungi HOTEL MERDEKA & RS SANTA CLARA , namun saya hanya sanggup memotret dari luar. Mungkin lain kali saya akan kembali dan masuk. Mulai hari itu saya selalu berusaha untuk mendapatkan waktu2 dhuha terbaik, sekalipun di antara kuliah maupun praktikum, dan bisnis. Alhamdulillah.. rejeki kami berikutnya terasa amat lapang.. seperti yang selalu Bapak katakan dan buktikan..


Bagi saya, tidak ada yang namanya kebetulan, semua sudah diatur oleh-Nya, dan mungkin ini cara Dia “mengajari” saya..


Tulisan ini saya buat untuk mengafirmasi alam bawah sadar saya bahwa dhuha adalah kebutuhan mutlak yang memiliki fadhilah seperti yang dijanjikan..


Dan utamanya untuk mengenang beliau, Bapak, Mochammad Muslich Sophie, (Oom Memet/Pakdhe Sophie) ayah terhebat kami..!


Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu

Yogyakarta, menjelang milad Bapak, 18 Maret yang "ke-56”


Ik mis je erg Pap.. zo erg..

 

Sun, 14 Mar 2010 @16:16
Tags: mochammad muslich sophie ayah dhuha


2 Komentar
image

Sun, 14 Mar 2010 @19:20

aajb

subhanallah

critomu koyok kae sing di tipi2 jar, hehhee

image

Sun, 11 Jul 2010 @08:34

eva

Subhanallah..
begitu banyak hikmah atas setiap kejadian..
Baarakallah fii Umurik..


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 7+1+0

Copyright © 2018 Mochammad Fadjar Wibowo · All Rights Reserved Proudly Powered by DBS Webmatic