Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?

Our Wedding
image

Mutiara & Fadjar


With all of families, relatives and friend prayers and blessings may God also put blessing on both of them to pursue their dream together and live happily ever after..
Kategori Artikel
Artikel Terbaru
Komentar Terbaru
Arsip

BISNIS FRANCHISE PULSA TERDAHSYAT

AYO Berkebun EMAS!!!
Chat with Me?!
Visitor Flags
Contact

Phone:

+62 857 4342 4433 

e-mail & Facebook:

fadjar.wibowo@yahoo.com

mailing address:

Jl. Menur 12 Baciro Yogyakarta 55225, Indonesia

Visitor

Location of Visitors

KECOPETAN!! Sebuah Refleksi

Mercredi, 21 Septembre 2011

Tiga kali sudah hari ini aku bolak-balik ke counter Bank ING di samping Saint Luc Clinique, rumah sakit milik kampus kedokteran dan kesehatan masyarakat Universitee catholique de Louvain tempat aku belajar. Pertama aku mengurus penggantian kartu ATM ku yang hilang kemarin. Kedua aku mengajukan layanan autodebet untuk tagihan listrik dan sewa kamar. Ketiga mengganti data alamat dan jumlah. Dan hampir saja aku datang lagi untuk keempat kalinya karena kesalahan yang tidak perlu dari costumer service (CS) Bank asal Belanda ini. Kebetulan CS ini adalah wanita setengah baya, dari segi usia mungkin pantas untuk menjadi budhe saya, yang tidak berbahasa Inggris, hanya Prancis dan Belanda dengan aken Belgia yang sangat kental.

Kedatanganku yang pertama dan kedua adalah wajar karena selepas mendapat penggantian ATM yang hilang aku pergi ke Logement Service dan sekembalinya dari sana, aku ingin mengajukan autodebet untuk pembayaran sewa rumah dan tagihan listrik yang baru kudapat dari Logement Service. Agar lebih praktis.

Tetapi setibanya di rumah, kutemukan kesalahan penulisan alamat dan jumlah tagihan pada hasil print out mbokdhe CS tadi. Walau jumlah tagihannyannya lebih kecil, ini bisa beresiko suatu hari aku kena denda karena dianggap aku lalai membayar di bawah jumlah seharusnya. Aku pun kembali untuk membenarkan jumlah tagihan dan meminta tanggal nya dimajukan. Pertama dikerjakannya lah bagian tanggal tagihan dari 1/10 menjadi 24/9.

“Oui, c’est bon” kata saya sambil latihan Prancis. « Mais, le mont est pas juiste Madame », sambung saya menerangkan angka 7 diketik angka 2 sama dia.

“Voila“,  katanya setelah memperbaiki dan memprint ulang.

Saya pun hanya mengecek bagian nominal yang sudah benar. Sampai pintu saya cek, tanggal tagihan autodebetnya jadi 24/10. Mundur 1 bulan. Wo, dasar mbokdhe!! Untung aku sempat baca, kalau aku tidak sadar dan membiarkan aku akan dianggap ngemplang bayar apartemen satu bulan !!! Mau balik lagi ingat pengalaman barusan dan yang lain, ahh sudah lelah dibuatnya..

 

Meski Negara-negara Eropa konon semakin canggih, termasuk Brussel harusnya sebagai ibukota Uni Eropa, tidak di semua negara hal ini diimbangi oleh SDM nya secara merata di semua lini. Tiga minggu pertama di Brussel ini sudah berkali-kali kami mendapati kekecewaan dalam berbagai bentuk pelayanan publik.  Beberapa di antaranya adalah:

1.       Istriku sempat dalam sehari kembali ke cashier Carrefour sebanyak tiga kali karena kesalahan hitung dan kesalahan identifikasi barang dari petugasnya. Kami hampir dirugikan 10 Euro. Itu yang kami sadari, entah belanja-belanja sebelumnya.

2.       Beberapa cashier di beberapa toko seperti di tempat fotokopi bekerja sangat lambat memijit komputer dan kalkulator dengan telunjuk dan membuatku yang biasa lihat Encik-encik bekerja sangat cepat menggunaka kalkulator di pasar atau took-toko di Indonesia menjadi sangat gemas. Kadang mereka malas luar biasa, hampir selalu men-scan semua barang yang dibeli customer meskipun barang ini sama dengan yang sebelumnya. Kalau membandingkan di Indonesia, nampak malas luar biasa untuk menekan tombol perkalian.

3.       Di kantor polisi pun demikian, petugas yang saya temui mengetik hanya dengan dua telunjuk dengan kecepatan timit-timit, orang Jawa bilang. Sementara teman di sebelahnya tidak berhenti mengunyah makanan kecil sepanjang setengah jam saya berdiri. Menunggu koleganya membuat surat pernyataan yang hanya satu halaman dan itu pun sudah dalam bentuk template.

Meski tidak di semua jenis pelayanan publik, namun sangat banyak keganjilan yang cukup mengganggu kelancaran proses administrasi di sini. Sangat berbeda dengan kualitas pelayanan di Geneva pada pengalaman yang lalu. Melihat kinerja mereka di Brussel ini, membuat saya sangat optimis dengan masa depan Indonesia.

Hari ini juga aku mengurus student card yang hilang. Beruntung aku sempat membuat surat pernyataan dari polisi kemarin, Attestation de depot de plainte dalam bahasa Prancis. Dengan surat keterangan ini aku tidak perlu membayar biaya penggantian sebesar 2,5 Euro. Walau tidak seberapa, sekeping Euro terasa begitu berharga bagi pengantin baru seperti kami.

Selama pengurusan student card baru aku memperhatikan bagian re-inscription etudiant ini sangat ramai oleh mahasiswa yang melakukan registrasi ulang di awal tahun ajaran baru. Hal yang menarik perhatian adalah administrasi di universitas ini sangat tertib dan efisien. Regsitrasi dilakukan satu atap dengan prosedur yang mudah. Di kampus kemampuan administrasi dan mengetik petugasnya lebih baik dari di beberapa fasilitas publik lain. Di samping ruangan registrasi ulang disediakan dua meja yang ditunggui dua mbak-mbak dengan tulisan accueil di atas mejanya. Mereka adalah mahasiswi yang direkrut untuk selalu siap menjawab pertanyaan dari mereka yang datang. Dengan pelayanan cukup ramah, dan mengakui setiap ketidaktahuannya karena statusnya yang masih baru, pengurusan student card alhamdulillah berlangsung lancar.

Sehari Sebelumnya..

“Hmmphh.. lega..” ucapku selepas solat asar di atas rumput taman kawasan Porte de Hal, Brussel ini.

“ 5 menit lagi jalan yuk, » ucapku pada istri yang sedang duduk di sebelah melihat2 foto kita berdua seharian itu.

Mataku melihat sekeliling.

“Sayang, lihat tas Mas ga?” tanyaku setengah panik.

“Hah, kamu ga becanda kan?” jawab istriku tidak kalah panik.

Beberapa detik kami panik. Bergantian kami saling melempar pandang dan sekeliling. Hanya ada tatapan panik, sedih, kecewa. Menyesali kecerobohan kami. Ya, hanya “Innalillahi wa inna ilaihi rajiun” yang bisa kami ucapkan.

Kami baru saja kehilangan tas cangklong krem kesayanganku bertuliskan “Amsterdam”. Isinya yang berharga adalah dompet, hp, dan kartu pos yang akan dikirim ke Indonesia. Di dalam dompet ada beberapa kartu nama penting antara lain dari beberapa petinggi  WHO, staff diplomatic di beberapa KBRI & PTRI, dan beberapa contact person international NGO yang aku kumpulkan selama internship di WHO dan beberapa kunjungan ke Eropa di waktu lalu. Ada juga kartu asuransi, ATM Mandiri, ATM ING (Bank Belanda yang kupakai di Belgia), kartu mahasiswa UCL, uang 20 CHF sisa di Geneva lalu dan 50 ribu rupiah untuk bahan obrolan sewaktu-waktu aku mengenalkan Indonesia pada lawan bicaraku.

Beberapa saat kami mencari sekeliling, bertanya pada orang-orang di sekitar, tapi nihil. Pun orang2 di sekitar kami duduk saat itu adalah selain warga kota, juga beberapa gelandangan dari Eropa Timur dan Magribi (Afrika Utara). Meski rasanya percuma saja, saya menduga bisa saja d antara mereka sudah saling berkomplot, dan tidak banyak gunanya menanyakan kehilangan barang pada gangster2 dan drug user seperti ini.

Saat kami sibuk berkekliling, secara kebetulan sebuah mobil patroli melintas, aku pun berlari menghentikan mereka untuk mencari bantuan. Intinya, aku harus segera ke kantor polisi untuk membuat surat pernyataan kehilangan. Pengalaman di Indonesia beberapa kali kehilangan barang berguna juga melatih diri menghadapi situasi seperti ini. Surat ini insyaALlah akan bermanfaat dalam pengurusan penggantian beberapa barang yang hilang nanti.

Sedari awal kami memang sudah mencermati taman ini bukan tempat yang aman. Tapi kelelahan seharian berjalan-jalan memburu mural-mural tokoh kartu Tin Tin di penjuru Brussel membuat kami hanya bisa merebahkan diri di taman ini. Taman yang terletak tepat di depan Metro Station Porte de Hal ini cukup bersih dan terpelihara. Udaranya sejuk, rumputnya hijau merata menggemaskan ke seluruh area. Seolah menawarkan keempukan tiada tara saat duduk di atasnya. Di salah satu ujungnya terdapat sebuah port bersejarah nan cantik, Porte de Hal namanya. Meski begitu saat kami datang ada sekitar tiga gerombolan drug user di beberapa sudut taman, keberadaan beberapa keluarga dan pasangan lain membuat kami merasa aman.

Teringat belum solat, aku pun memutuskan untuk solat di atas rumput tersebut dan membelakangi tasku yang kemudian hilang itu. Dasar copet, peduli amat, namanya butuh makan, orang lagi solat pun tas nya diembat. Jangankan taman, di masjid kampusku pun tas kuliah berisi laptop sering hilang. Ajaibnya, istriku yang duduk disebelahku pun sama sekali tidak merasakan ada gerakan mencurigakan dari orang yang mungkin lewat di belakang kami.

Seusai dari kantor polisi, kami kembali mengecek tempat kami duduk tadi. Hasilnya sama saja. Innalillahi wa innailaihi rajiun, mungkin memang belum rejekiku. Kami pun urung menghadiri undangan makan malam dengan beberapa volunteer UNICEFF, tempat istriku akan bekerja, yang sedianya merupakan agenda kami malam itu. Pukul 18.55, surutnya sinar matahari di petang itu seolah mengiringi eskalator Metro Station yang mengantar kami masuk ke bawah tanah. Kugenggam tangan istriku. Pulang.

Hikmah:

1.       Selalu optimis jadi orang Indonesia, kekurangan yang ada di kita juga ada pada bangsa Eropa dan bukan tidak mungkin pada bangsa mana saja. Namun dengan terbiasa hidup dalam keterbatasan, insyaAllah kita tidak terlena sehingga terus bangkit dan berusaha.

2.       Doa harus dibarengi usaha. Mau solat khusuk kayak apa, kalau tas ga dijaga bakal hilang juga. Mau rajin sholat jumat kayak apa, berangkatnya naik motor ga pake helm bisa cilaka juga. Mau berdoa serajin apa, kalau ga ngelamar kerja ga bakal dapat juga.

3.       Di pusat kota, di benua manapun berada, selalu waspada terhadap barang bawaan Anda. Jangan pernah terlena. Walaupun sedetik.

Wed, 21 Sep 2011 @19:59


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 0+6+4

Copyright © 2018 Mochammad Fadjar Wibowo · All Rights Reserved Proudly Powered by DBS Webmatic